Jakarta – Pengamat Politik dan Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio mengatakan, masyarakat belum tentu menerima positif tindakan Presiden Joko Widodo yang tegas menyatakan dirinya boleh berkampanye dan berpihak dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
Hensat-sapaan akrab Hendri Satrio mengaku tidak kaget kalau saat ini Pasangan Calon Presiden (Paslon) Nomor Urut 02 Prabowo-Gibran menempati posisi pertama di berbagai hasil survei yang bertebaran jelang pencoblosan Pilpres, 14 Februari 2024.
“Justru yang membuat saya kaget dan mengejutkan itu mereka sampai hari ini belum bisa menembus elektabilitas 50% plus 1 itu lho,” kata Hensat di Podcast LanjutGan
Padahal, kata Hensat, mereka itu paling lengkap loh, logistiknya juga gede, mesin politiknya juga banyak banget, semua sumber daya mereka miliki. Termasuk paslon ini juga punya Jokowi. Namun meski begitu belum juga bisa menembus elektabilitas 50% + 1.
Menurut Hensat, fenomena tersebut artinya menunjukkan ada daya kritis rakyat Indonesia yang digunakan pada saat memilih presiden di Pilpres 2024. Hal itu yang tidak disadari oleh Paslon 02.
“Jadi kalau pun kemudian Jokowi secara terang-terangan mengatakan, saya bisa loh mendukung, saya bisa loh berkampanye dan publik merasa bahwa itu adalah untuk Paslon 02. Meski begitu, belum tentu juga publik akan menerika positif pernyataan presiden itu,” pungkas Hensat.


