Jakarta – Berbagai narasi tentang kondisi Indonesia bertebaran di tengah masyarakat. Ada yang memandang Indonesia positif dan negatif. Tergantung dari mana sudut pandang yang digunakan. Bagi capres nomor urut 02 Prabowo Subianto, perbedaan sudut pandang merupakan suatu hal yang wajar terjadi. Namun jangan kemudian terjebak pada satu sisi saja. Apalagi jika sisi itu adalah sisi negatif.
Saat memberikan paparan di acara diskusi Hari Pers Nasional yang diadakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang digelar di Gedung Dewan Pers, Jakarta, pada Kamis (4/1), Prabowo meminta masyarakat tidak terjebak pada pemikiran bahwa Indonesia negara yang miskin, korup, dan tidak mampu berbuat apa-apa. Ia juga menyinggung istilah minderwaardigheidcomplex yang merujuk suatu keadaan di mana seseorang menganggap dirinya lebih rendah dari manusia di sekitarnya.
“Kita jangan termakan suatu brain washing bahwa Indonesia negara miskin, Indonesia negara tidak mampu, orang Indonesia tidak bisa manage, pemimpin-pemimpin Indonesia korup semua, kita enggak mampu bikin apa-apa. Itu adalah ‘inferiority complex’. Itu adalah ‘minderwaardigheidcomplex’ yang dicuci otak kita oleh Belanda dan negara Barat. Maaf ya saya harus bicara itu,” katanya.
Prabowo menegaskan pernyataan tersebut bukan berarti dirinya anti asing, khususnya negara-negara barat. Hanya ingin mendudukkan perkara pada proporsinya. Jika selama ini negara lain menjual produknya ke Indonesia tanpa persoalan berarti, produk-produk Indonesia yang dijual ke sana justru dipersoalkan.
“Berapa puluh tahun kita izinkan, Mercedes, BMW, Volkswagen, produk-produk mereka. Boleh kamu jual ke kita. Kita mau jual kelapa sawit, enggak boleh. Sekarang mereka persoalkan kopi kita, teh kita, aduh bagaimana. Habis itu dia bilang enggak bisa karena kamu merusak,” tambahnya.
Penolakan tersebut bukan karena produk Indonesia buruk, tapi karena negara-negara barat tidak ingin Indonesia menjadi negara maju seperti mereka. Maka narasi-narasi negatif tentang Indonesia pun dimunculkan.
Ia juga menambahkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci untuk bisa menjadi negara maju. Memiliki daya saing di percaturan internasional. Salah satunya dengan peningkatan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Kemudian memperkuat dan meningkatkan kemampuan dan prestasi akademis generasi penerus.


