Jakarta – Harga kakao di pasar komoditas New York pekan lalu mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di harga US$5.874 per ton. Dilansir dari BBC, lonjakan ini disebabkan berkurangnya pasokan akibat perubahan cuaca dan el nino.
Suhu yang lebih panas dan perubahan pola curah hujan akibat perubahan iklim memang sangat mempengaruhi hasil panen. Kondisi ini diperparah dengan munculnya el nino yang menyebabkan cuaca lebih kering melanda Ghana dan Pantai Gading, dua negara produsen biji kakao terbesar di dunia.
“Pedagang khawatir akan pendeknya tahun produksi dan kekhawatiran ini diperparah oleh El Nino yang mengancam tanaman Afrika Barat dengan cuaca panas dan kering,” kata Jack Scoville, analis di Price Futures Group.
Situasi ini membuat produsen produk olahan cokelat harus memilih antara menaikkan harga jual produknya demi menjaga pendapatan, atau tetap menjual di harga yang sama guna menjaga pasar.
Hershey, produsen cokelat terbesar di dunia, sudah mengisyaratkan bakal menaikkan harga jual produknya. Hal tersebut muncul setelah laporan keuangannya pada kuartal terakhir tahun 2023 menunjukkan penurunan 6,6 persen. Meski demikian, Chief Executive Hershey Michele Buck mengatakan masih menimbang segala kemungkinan.
“Mengingat kondisi harga kakao, kami akan menggunakan semua alat yang kami miliki, termasuk penetapan harga, sebagai cara untuk mengelola bisnis,” katanya.
Masalah naiknya harga bahan baku juga dikeluhkan Mondelez, perusahaan di balik merek Cadbury. Chief Financial Mondelez Luca Zaramella mengakui peningkatan harga yang signifikan pada komoditas kakao dna gula menjadi tantangan terbesar perusahaannya tahun ini.


