Jakarta – Imlek menjadi salah satu perayaan yang paling dinantikan masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Tahun 2024 ini, perayaan Imlek akan jatuh pada tanggal 10 Februari.
Hari besar masyarakat Tionghoa ini biasanya dirayakan dengan berbagai tradisi dan adat. Misalnya, sembahyang leluhur, membersihkan rumah, hingga mendekor rumah dengan ornamen-ornamen Imlek yang identik dengan warna merah.
Selain itu, ada juga beberapa tradisi Imlek lain yang dilakukan. Sayangnya, tradisi tersebut sebagian sudah mulai dilupakan. Apa saja tradisi Imlek yang mulai dilupakan tersebut?
1.Menyambut Dewa dapur
Masyarakat Tionghoa tentunya berharap sang dewa akan mengatakan hal-hal yang baik. Oleh karena itu, mereka menyajikan makanan yang manis-manis, seperti kue gula, panekuk goreng, dan sup buncis sebelum malam Tahun Baru Imlek sebagai persembahan kepada dewa dapur.
Sayangnya, tradisi Imlek ini sudah jarang dilakukan karena banyak keluarga yang beralih ke rumah modern tanpa tungku masak tradisional.
2. Membuat Fermentasi Tepung di Tanggal 28 Bulan ke-12 Imlek
Tradisi Imlek berikutnya yang mulai dilupakan adalah membuat fermentasi tepung di tanggal 18 bulan ke-12 Imlek. Fermentasi tepung ini nantinya akan dimasak menjadi roti kukus.
Zaman dulu, setiap rumah akan sibuk menyiapkan makanan untuk Imlek, khususnya roti kukus. Mereka membuatnya dengan mencampurkan adonan roti dengan ragi, lalu menunggu selama dua hari sebelum perayaan Imlek dimulai. Setelah dua hari, adonan akan terfermentasi sempurna dan siap diolah menjadi hidangan yang lezat.
Sekarang kebiasaan ini sudah jarang terlihat karena tersedianya baking powder, kulkas, dan toko roti sehingga orang-orang bisa membuatnya dengan cepat. Kalau tidak mau repot, tinggal beli saja di toko roti.
3. Menyapu Lantai dan Membuang Sampah
Setelah menerima kunjungan kerabat, tak heran jika rumah menjadi kotor dan sampah berserakan. Namun, di hari pertama dan kedua perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa dilarang menyapu lantai maupun membuang sampah karena dipercaya bisa membawa sial.
Tradisi ini sudah cukup jarang dilakukan masyarakat Tionghoa yang tinggal di perkotaan, tetapi masih sering dilakukan oleh mereka yang tinggal di pedesaan atau kota kecil.
4. Mengadakan Ritual Persembahan untuk Dewa Keberuntungan
Persembahan dilakukan di toko atau rumah, melibatkan kurban berupa babi utuh, kambing, ayam, bebek, atau ikan mas hidup. Tradisi ini dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan keberuntungan dalam tahun yang akan datang.
Menurut legenda, Dewa Keberuntungan terkait dengan Dewa Lima Jalan, yaitu Jalan Selatan, Jalan Utara, Jalan Tengah, Jalan Barat, dan Jalan Timur.
5. Tetap di Rumah pada Hari ke-3
Hari ketiga perayaan Imlek dikenal sebagai Hari Anjing Merah. Menurut cerita rakyat Tionghoa, anjing merah adalah Dewa Kemarahan. Barangsiapa yang bertemu dengannya akan mendapat nasib buruk.
Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa memilih untuk tetap di rumah, tidak berkunjung ke rumah kerabat, ataupun menerima tamu pada hari ketiga Imlek daripada bertemu dengan anjing merah.
Namun, masyarakat Tiongkok modern sudah jarang mengikuti tradisi ini. Bahkan, mereka tetap berkunjung ke rumah teman atau kerabat pada hari ketiga perayaan Tahun Baru Imlek.