Jakarta – Sekjen PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengatakan menteri-menteri dari partainya akan tetap di Kabinet Indonesia Maju sampai akhir masa jabatan. Hasto mengatakan menteri PDIP tetap di kabinet dan fokus untuk mencegah terjadinya instabilitas politik.
“Ya tentu saja ya (tetap di kabinet sampai selesai masa jabatan), menteri-menteri dari PDI Perjuangan fokus, agar apa? Agar tidak instabilitas politik, agar tidak ada pihak-pihak ketiga yang mengail di air keruh,” kata Hasto.
Hasto yakin rakyat dapat menentukan pemimpin yang terbaik. Dia mengatakan presiden yang akan terpilih di Pilpres 2024 harus mewujudkan Indonesia dengan karakter kebudayaannya.
“Kami percaya bahwa rakyat akan mampu menentukan pemimpin yang terbaik. Hari ini kami bersyukur Bapak Ganjar dan Prof Mahfud menikmati pertunjukan kebudayaan, sebagaimana disampaikan oleh Butet, pemimpin ke depan harus mewujudkan Indonesia dengan karakter kebudayaanya, ini yang harus ditampilkan,” ujarnya.
Dia mengatakan Ganjar dan Mahfud merupakan pemimpin yang akan mewujudkan Indonesia dengan karakter kebudayaan tersebut. Menurutnya, hal itu tercermin dari sikap Ganjar dan Mahfud yang menyempatkan waktu menghadiri pentas budaya Butet tersebut.
“Sehingga di tengah kampanye Pak Ganjar dan Prof Mahfud masih menyempatkan, ini artinya cermin bahwa watak-watak kemanusiaan, nurani itu dikedepankan, karwna nurani kemanusiaaan itu memerlukan sentuhan kebudayaan termasuk kritik pada malam hari ini,” ujarnya.
Sebelumnya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto berbicara terkait adanya menteri PDIP siap angkat koper dari kabinet. Namun, Hasto mengatakan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri tidak ingin terjadi gangguan stabilitas pemerintahan dengan mundurnya menteri PDIP.
“Kalau menteri-menteri dari PDI Perjuangan, kita harus melihat bahwa kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya. Jadi meskipun ada yang pernah mengatakan ‘Kami sudah siap angkat koper’, tapi buat Ibu (Megawati) kan stabilitas pemerintahan itu kan sangat penting,” kata Hasto di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (23/1/2024).
Hasto kemudian memberikan contoh pada saat masa pemerintahan Presiden ke-2 Soeharto. Saat itu, kata dia, jika ada menteri yang mundur menyebabkan kegoncangan politik.
“Kalau kita misalnya melihat zaman Pak Harto, ada menteri yang mengundurkan diri, kemudian menyebabkan Pak Harto juga harus mundur kan, kemudian menciptakan kegoncangan politik,” ungkapnya.


