Masih Sengketa Impor Ayam, Indonesia-Brasil Bertarung di WTO

LIMAPAGI – Pemerintah Indonesia masih harus berhadapan dengan gugatan Brasil di organisasi perdagangan dunia (World Trade Organization/WTO). Hal ini lantaran kebijakan importasi daging ayam DS 485 dari Negeri Samba.

Direktur Jenderal Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Wijaksono mengatakan, Brasil masih mempersoalkan penerbitan sertifikat kesehatan yang dinilai melanggar ketentuan WTO.

Kendati demikian, pemerintah mengklaim sertifikasi kesehatan tidak melanggar aturan WTO.

“Indonesia menganggap kebijakan sertifikasi itu tidak melanggar dan konsisten, dengan beragam ketentuan yang ada di WTO serta yang diatur oleh badan internasional lainnya,” kata dia dalam diskusi daring, Jakarta, Senin 31 Mei 2021.

Pemerintah juga berdalih tidak dengan sengaja memolorkan waktu penerbitan sertifikasi yang dibutuhkan dalam proses importasi.

Kebijakan yang sama juga diterapkan negara lain dengan tertib untuk menjamin keamanan warganya.

Djatmiko melanjutkan, ketentuan itu digunakan untuk memastikan keamanan produk impor sekaligus memperkuat posisi negara eksportir, dalam memenuhi ketentuan yang berlaku tingkat internasional dan penerapannya di Indonesia.

Penerapan kebijakan terkait juga tidak ditujukan untuk menghambat pengeluaran sertifikat kesehatan.

“Sekali lagi, pemerintah berkeyakinan bahwa rezim kebijakan health certificate sudah sejalan dengan ketentuan WTO dan ketentuan kesehatan hewan yang ditetapkan lembaga internasional lainnya,” kata dia.

Tak hanya itu, pemerintah Indonesia juga mengklaim tidak menerapkan kebijakan yang bersifat pembatasan penggunaan produk impor. Sedangkan Brasil sendiri mengidentifikasi upaya pembatasan ini sebagai intended use.

Djatmiko menyebut, setiap kebijakan yang masuk dalam Permendag tidak bertujuan membatasi produk dari impor. Adapun progres sengketa dagang yang sudah dibahas sejak akhir 2014.

“Sebagaimana diketahui, Indonesia memang menerapkan kebijakan ini berdasarkan asesmen bahwa produk-produk itu telah sesuai dengan berbagai persyaratan yang ditetapkan,” singkatnya.

Menilik ke belakang, perselisihan antara Indonesia dengan Brasil dalam persoalan ayam bukanlah hal yang baru. Sejak 2014 sengketa terkait kebijakan impor daging ayam ini sudah terjadi.

Kala itu, Brasil menuntut bahwa Indonesia telah melakukan proteksi perdagangan dimana hal ini melanggar berbagai aturan WTO, termasuk Agreement on Sanitary and Phytosanitary Measures, Agreement on Technical Barriers to Trade, Agreement on Agriculture, the Agreement on import Licensing Procedures, dan Agreement on Preshipment Inspection.

Sengketa dagang itu dipicu kebijakan Indonesia menghentikan impor daging ayam dari Brasil sejak 2009. Kala itu, sengketa diselesaikan di Dispute Settlemet Body (DSB) World Trade Organization (WTO) yang diatur dalam Dispute Settlement Understanding (DSU).

Indonesia dianggap bertentangan dengan Perjanjian WTO, yaitu daftar produk yang dapat diimpor (positif list), persyaratan penggunaan produk impor (itendeduse), prosedur perizinan impor, penundaan proses persetujuan sertifikat kesehatan veteriner (unduedelay).

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.