Polda Jabar Awasi Kenaikan Harga Kedelai Bersama Asosiasi Pedagang Tahu Tempe

LIMAPAGI – Satgas Pangan Polda Jawa Barat turut melakukan pemantauan terkait melonjaknya harga kedelai di wilayah hukumnya. Koordinasi dengan dengan asosiasi pedagang tahu dan tempe pun dilakukan.

“Sudah kita rapatkan dan bergerak melakukan koordinasi sama asosiasi,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar Kombes Yaved Duma Parembang saat dihubungi Limapagi.com melalui pesan singkat, Senin, 31 Mei 2021.

Selain melakukan koordinasi dengan asosiasi pedagang tahu dan tempe, Yaved menuturkan bahwa pihaknya juga melakukan operasi pasar di wilayah hukum Polda Jabar, guna memastikan penyebab kenaikan harga kedelai.

“Ini direspon oleh Satgas Pangan Jabar untuk melakukan operasi pasar dan menghimbau Puskop produsen tempe tahu agar tidak meliburkan kegiatan produksi dan penjualan,” tuturnya.

Berdasarkan hasil operasi pasar, lanjut dia, kenaikan harga kedelai murni karena harga di pasaran naik. Artinya, tidak ada upaya penimbunan atau tindakan melanggar hukum dalam hal kenaikan harga kedelai.

“Kenaikan dikisaran harga Rp10.084 per kilogram. Sehingga harga di tingkat pengrajin juga mengalami kenaikan sampai Rp10.500 per kilogram,” ujarnya.

Harga keledai yang melambung tinggi membuat perajin tahu dan tempe di Kota Bandung berencana akan mogok selama tiga hari, mulai dari 28 sampai 30 Mei 2021.

Hal ini efek dari kenaikan harga kacang kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe, dari Rp9.800 per kilogram pada awal Mei 2021 menjadi Rp10.500 pada akhir Mei 2021.

“Ya mau gimana lagi inginnya kita juga tak mau mogok produksi, tapi kita juga bingung bagaimana lagi ngakalin,” ucap Perajin Tahu di Kecamatan Arcamanik, Jajang (35 tahun) kepada awak media di tempat produksinya, Kamis, 27 Mei 2021.

Menurut Jajang, pihaknya tidak mungkin menaikan harga tahu dan tempe yang diproduksinya. Alasannya, pembeli pasti akan memilih komoditas yang lain seperti sayur dan telur yang harganya lebih stabil.

“Kita akalin dengan memperkecil ukurannya, tetapi tetap untungnya enggak jelas. Soalnya harga kedelainya mahal banget,” sambungnya.

Dia berharap pemerintah dapat menurunkan harga kedelai sampai kisaran Rp8.000 per kilogram.

” Kalau seperti sekarang memang berat untuk perajin tahu dan tempe juga, kan harus bayar pegawai juga apalagi omzet dagang saat pandemi Covid-19 menurun,” tutupnya.

Jajang mengatakan menyuplai tahu dan tempe ke pasar tradisional di sekitar tempat produksinya. Seperti Pasar Ujung Berung, Cicaheum, Cicadas, dan Pasar Induk Gede Bage dengan harga Rp4.000 per 10 tahu.

Sementara salah satu pedagang tahu dan tempe di Pasar Ujung Berung, Ade (45 tahun), mengatakan akan berhenti berjual di masa mogok para perajin tahu dan tempe.

“Saya enggak ikut mogok, tapi kalau mereka mogok produksi ya pasti akan berhenti berjualan. Soalnya enggak ada pasokan,” katanya.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.