Covid-19 dan Pengembangan Pemain Muda, Mungkinkah Muncul Messi Baru?

LIMAPAGI – Mimpi ratusan remaja untuk berlaga di Piala Dunia U-20 2021 buyar karena Covid-19. Bersamaan dengan itu, jutaan pemain muda yang berharap menjadi Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Diego Maradona baru pupus di tengah jalan.

Covid-19 menjadi momok tersendiri bagi masyarakat dunia. Berbagai kegiatan yang tadinya sudah menjadi rutinitas, tak lagi bisa dilakukan.

Pembatasan sosial, demikian yang terus terdengar di berbagai media. Tak lagi manusia bisa menjalani kegiatan tanpa menjaga jarak satu sama lain.

Umat manusia pun beradaptasi dengan cara hidup anyar, normal baru. Suka atau tidak, demi alasan keamanan dan kesehaan harus dilakukan oleh semua orang di seluruh dunia.

Industri sepak bola merupakan satu di antara yang paling terpengaruh. Bukan tanpa alasan, olahraga mengolah si kulit bundar memang identik dengan permainan 11 lawan 11.

Kompetisi besar macam Premier League, Serie A, dan Liga Champions saja sempat terpengaruh. Meski akhirnya bisa berlangsung tanpa penonton, hal yang sama tidak berlaku untuk sepak bola usia muda.

Pembinaan Usia Dini Terbengkalai

Hampir semua pemain muda di seluruh dunia kehilangan waktu satu tahun untuk berkembang. Kondisi tersebut lantaran Covid-19 yang membuat mereka tidak bisa berlatih.

Memang bisa mereka latihan di rumah masing-masing atau secara mandiri. Namun, tentu hal itu berbeda ketimbang latihan bersama tim.

Kondisi yang sama terjadi hampir di seluruh dunia. Ambil Indonesia yang paling dekat sebagai contoh. Kompetisi kelompok umur masih terhenti.

Jangankan liga sepak bola kelompok umur, pesta bal-balan senior saja masih belum berlangsung. Kini di Indonesia turnamen yang berjalan hanya pramusim macam Piala Menpora.

Akan tetapi, pencinta sepak bola di Indonesia tidak perlu sedih. Toh, bukan hanya Indonesia yang kompetisi (kelompok umur) nya tersendat.

Memang ada beberapa negara yang turnamen kelompok umur bisa berlangsung. Contohnya di Swiss yang liga U-15 nya sudah berjalan atau Vietnam dengan kompetisi U-18.

Lagi-lagi jangan bersedih. Toh Inggris yang merupakan tempat lahir sepak bola mengalami kesulitan yang sama. Berdasarkan laporan Independent, para pemain usia muda baru sepekan ini menjalani latihan bersama.

Akibat aturan terkait Covid-19, tidak ada pesepak bola berusia 15 tahun ke bawah yang bermain sejak Oktober. Kalau ditelisik lebih jauh, bahkan sudah dari awal 2020.

Masalah yang tercipta di sini bukan sekadar waktu yang terbuang. Di sepak bola yang berjalan begitu cepat, mungkin tidak adanya kompetisi bisa menjadi peluang yang hilang.

Bagi pesepak bola, usia delapan sampai 17 tahun merupakan fase penting dalam perkembangan pesepak bola. Pada fase tersebut, teknik-teknik dasar harus mereka pelajari benar-benar.

Wajar saja bila di Inggris muncul kekhawatiran terkait hilangnya generasi emas mereka. Maklum, saat ini sudah ada nama-nama macam Phil Foden, Jude Bellingham, dan Jadon Sancho.

Covid-19 Bikin Lionel Messi Baru Sulit Muncul

Contohnya dari CEO Premier League Jr., Martin Brock. Bahkan, Brock membawa nama top dunia macam Lionel Messi dan Diego Maradona sebagai perbandingan.

“Apakah Lionel Messi akan seperti sekarang apabila Anda mengambil satu tahun dari masa perkembangannya? Apa jadinya Diego Maradona tanpa bermain di jalanan semasa kecil?” kata Brock.

“Anda tidak bisa kehilangan satu tahun dalam sekolah dan berharap anak-anak siap menjalani ujian. Mustahil berharap dari mereka yang kehilangan satu tahun waktu latihan.”

“Efeknya tidak akan mungkin sama. Anda bisa kembali dan mengulang satu tahun. Sayangnya hal tersebut tak mungkin dilakukan di sepak bola,” Brock menambahkan.

Semasa pandemi Covid-19, konsentrasi pencinta sepak bola memang lebih tertuju ke kompetisi bal-balan level tertinggi. Namun, perkembangan pemain untuk masa depan seolah terbengkalai.

Rantai peristiwa dari fenomena mandeknya kompetisi kelompok umur bisa memengaruhi banyak hal. Paling utama tentu perkembangan pemain sendiri yang sudah disebut sebelumnya.

Selain itu, kegiatan memantau pemain oleh pemandu bakat pun terhenti. Dampaknya produksi pesepak bola muda pun tersendat. Satu generasi menjadi terancam hilang.

Di Inggris sendiri baru pesepak bola dengan usia 16 tahun ke atas yang boleh kembali ke akademi. Artinya masalah untuk produksi pemain dari usia paling dini masih belum terselesaikan.

Tanpa adanya kompetisi dan hilangnya waktu latihan selama satu tahun, para pesepak bola di Inggris harus bekerja ekstra keras untuk menggapai mimpi mereka.

Sesusah-susahnya Messi, Maradona, dan Ronaldo, setidaknya mereka tidak pernah mengalami hal yang sama. Apakah mimpi menjadi megabintang sepak bola masa depan generasi ini sudah musnah?

Hanya waktu yang bisa menjawab. Sayangnya waktu yang tersedia untuk mereka berkembang tidak banyak karena satu tahun yang terenggut akibat Covid-19.***

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.