Polisi Kembali Ungkap Prostitusi Online Lewat MiChat, Pelaku dan Korban Masih di Bawah Umur

LIMAPAGI – Modus prostitusi yang memanfaatkan aplikasi MiChat kembali terungkap. Kali ini pihak kepolisian membongkar kasus prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur dengan modus serupa di sebuah homestay Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Anoa Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kabidhumas Polda Sulteng Kombes Pol Didik Supranoto mengungkapkan, sebanyak 22 pasang muda-mudi diamankan Direktorat Reskrimum (Ditreskrimum) Polda Sulteng, pada Jumat malam, 26 Maret 2021. Dari pengungkapan itu polisi menetapkan empat orang tersangka, dua di antaranya masih di bawah umur.

“Dari 22 muda-mudi yang diamankan, 7 orang berstatus korban masing-masing inisial AN (16), MR (17), NM (17), BR (14), EE (23), S (19) dan RS (19), sedangkan 4 orang ditetapkan tersangka yaitu WS (22), HG (26), VR (17) dan MR (17),” ungkap Didik dalam keterangan resminya, Rabu, 31 Maret 2021.

Ia juga mengungkapkan dalam penggrebekan tersebut polisi juga mengamankan beberapa alat kontrasepsi, 13 buah handphone berbagai merek, pisau, pirex, korek, sedotan, dan lain-lain.

Mantan Wadirreskrimum Polda Sulteng ini juga menjelaskan, modus yang digunakan para pelaku adalah korban menerima Booking Order (BO) untuk pelayanan Jasa Prostitusi melalui Aplikasi Whatshap (WA) maupun MiChat dengan tarif dari Rp300 ribu hingga Rp1,5 juta.

Didik juga mengungkapkan, tersangka mencari target pelanggan yang korbannya adalah anak-anak untuk  BO pelayanan seksual. Ketika mereka sudah mendapatkan pelanggan dan terjadi transaksi, yang bersangkutan mendapat upah berupa uang dengan jumlah bervariasi sesuai kesepakatan.

Didik memaparkan, dari hasil pelayanan jasa prostitusi tersebut, masing-masing korban memberikan uang tips kepada muncikarinya mulai dari Rp. 50 ribu hingga Rp. 500 ribu.

Mantan Kapolres Kolaka Sultra itu juga menjelaskan, dari pengakuan para korban, mereka terpaksa melakukan prostitusi online via MiChat karena himpitan ekonomi, kurangnya perhatian orangtua hingga permasalah dalam keluarga mereka.

Sementara itu, kata Didik, dua dari empat orang yang ditetapkan tersangka saat ini tidak dilakukan penahanan karena masih dibawah umur.

Para tersangka yang diduga melakukan tindak pidana exploitasi terhadap anak dan menjadi muncikari itu dijerat dengan Pasal 88 Jo pasal 76 huruf (i) UU N0 35 Tahun 2014 Tentang perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau Pasal 296 KUHPidana, diancam dengan pidana penjara maksimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp 200 Juta.***

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.