Terusan Suez Macet, Pasokan Minyak ke Negara Ini Jadi Terhambat

LIMAPAGI – Karamnya kapal raksasa Ever Given sejak Selasa, 23 Maret 2021 membuat sejumlah negara mulai membuat strategi baru. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan pasokan barang usai penutupan jalur perdagangan Terusan Suez, Mesir.

Pemerintah Suriah mengatakan, akan mulai menjatah penggunaan bahan bakar usai penutupan Terusan Suez yang berdampak penundaan pengiriman minyak ke negara yang dilanda perang itu.

Ancaman terhadap pasokan minyak di Suriah ini merupakan indikasi awal dari efek yang berkembang pesat dan meningkat yang disebabkan oleh gangguan perdagangan maritim yang vital.

Kementerian Perminyakan dan Sumber Daya Mineral Suriah mengatakan terblokirnya kanal oleh kapal berbobot 200 ribu ton itu diprediksi akan menghambat pasokan minyak negaranya.

“Menghambat pasokan minyak ke Suriah dan menunda kedatangan tanker yang membawa minyak dan turunan minyak ke Suriah.” tulisnya seperti Limapagi kutip dari New York Times, Senin, 29 Maret 2021.

Menurut Kementerian, penjatahan diperlukan guna menjaga ketersediaan pasokan untuk pelayanan penting di negaranya, salah satunya rumah sakit.

“Untuk menjamin kelanjutan pasokan layanan dasar untuk warga Suriah seperti toko roti, rumah sakit, stasiun air, pusat komunikasi, dan lembaga penting lainnya.” tuturnya.

Sementara itu di Lebanon, yang telah mengalami lebih banyak pemadaman listrik di tengah krisis ekonomi dan politik dalam beberapa bulan terakhir, media lokal melaporkan bahwa pasokan bahan bakar sangat rentan berisiko mengalami gangguan, terlebih jika penyumbatan terus berlanjut.

Alan Murphy, pendiri Sea-Intelligence sekaligus analis perkapalan memperkirakan, kemacetan lalu lintas air yang sangat besar telah menahan hampir USD10 miliar dalam perdagangan setiap harinya.

“Semua perdagangan ritel global bergerak dalam kontainer, atau 90 persennya,” ungkapnya.

Hampir setiap kapal kontainer yang melakukan perjalanan dari pabrik di Asia ke pasar konsumen di Eropa melewati jalur tersebut. Begitu pula kapal tanker yang sarat dengan minyak dan gas alam.

Menurut Moody’s Investor Service, penutupan kanal juga memengaruhi sebanyak 15 persen dari kapasitas pengiriman peti kemas dunia, yang menyebabkan penundaan di pelabuhan di seluruh dunia.

Kapal tanker, Lanjut dia, yang membawa 9,8 juta barel minyak mentah, sekitar sepersepuluh dari konsumsi global sehari, sekarang menunggu untuk memasuki kanal.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post