Milenial Bisa Beli Rumah Kalau Kurangi Ngopi dan Nongkrong, Apa Benar?

LIMAPAGI - Pada tahun 2019 lalu, hasil riset Kementerian PUPR mengungkap kalau 81 juta orang atau 31 persen populasi Indonesia yang merupakan milenial diperkirakan belum memiliki rumah.

Baca Juga: Kaum Berpenghasilan Rendah Banjiri Perkotaan di 2045, Bakal Krisis Rumah Layak Huni?

Dari 3.007 milenial yang mengikuti survei, 28,63 persen menyebut belum menemukan rumah yang tepat. 24,92 persen lainnya mengaku kalau belum mampu secara finansial.

Sementara itu, responden yang merasa belum mampu bayar uang muka atau down payment (DP) sebanyak 17,27 persen.&

Lantas, apakah benar kalau mengumpulkan DP dan menyiapkan keuangan untuk membeli hunian benar-benar sesulit itu?

Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan dan Komunikasi Digital Perum Perumnas, Ari Kartika, menekankan kalau ada jalan untuk merealisasi keinginan pembelian hunian.&

Selain mengumpulkan niat, Ari menyebut milenial mesti berhemat dan buat alokasi dana khusus. Sedikitnya 30 persen dari pendapatan perlu dialokasikan untuk cicilan rumah. Pos alokasi itu bisa dibuat dengan mengurangi ngopi atau nongkrong.

“Kurangi ngopi, online shopping, kurangi jajan-jajannya, kalau perlu kita tunggu promo-promo, buy one get one. Kita tunggu saja promonya,” kata Ari&dalam suatu kesempatan webinar, dikutip Senin, 18 Oktober 2021.

Baca Juga: &Kemenkeu soal Harga Rumah Kerap Tak Terjangkau: Banyak Tantangan Pengembangannya!

Dari penuturan Ari, ada banyak program-program kredit perumahan dari perbankan yang sangat memudahkan dan ringan. Cicilannya bahkan bisa hanya Rp800.000 per bulan.

“Ini relatif ringan ya, kalau sekarang kita minum kopi saja di kafe sudah berapa? Rp200 ribu atau Rp150 ribu per sekali nongkrong. Bayangkan dengan kita menyisihkan 4-5 kali nongkrong kita itu sudah bisa dapat cicilan untuk membayar hunian,” bebernya.

Penghematan lainnya adalah dengan menahan diri untuk membeli gadget mahal. Hal ini mengingat nilai gadget yang selalu susut.

“Kurangi beli gadget sebenarnya. karena gadget itu harganya turun, kalau beli hunian malah harganya naik. Gadgetnya biasa-biasa saja, enggak usah yang Rp20 juta Rp15 juta, terus kita harus cicilan untuk beli gadget itu. Tapi lebih baik kita untuk bayar DP,” ucapnya.

Langkah selanjutnya adalah menghitung kemampuan membayar uang muka. Cara menghitungnya adalah dengan mengkalikan 60 persen dari total tabungan.

“Ini kita lihat supaya kita bisa tahu mampu atau tidak. Kalau sudah menjadi karyawan di BUMN atau karyawan tetap di perusahaan, dan sudah ada payroll-nya di perbankan mana itu akan jauh lebih mudah karena tinggal dipotong gaji saja,” kata Ari.

Ia menambahkan kalau saat ini banyak sekali perumahan dengan DP nol persen, baik itu program yang ditawarkan perbankan maupun dari developer.

Baca Juga: Banyak Pengantin Baru, Bank BTN Optimistis Sektor Perumahan Makin Cerah

Ari mengingatkan untuk mengomunikasikan kemampuan cicilan ke perbankan untuk menentukan maksimal plafon.

“Lalu, pilih rumah yang cocok, aksesnya ke kantor yang cepat dan mudah sehingga tidak terlambat ke kantor, sesuai kemampuan, dan jangan lupa harus tahu siapa developernya, jangan asal membeli hunian tapi belum tahu developernya siapa,” tandasnya.

Shanies Tri Pinasthi
Shanies Tri Pinasthi

Shanies is an assistant editor at Limapagi. She handles news around the economy.&

Previously, she was an assistant editor/assistant producer at Warta Ekonomi.&

Shanies started his career in media as an economic and national reporter for data-based media, Validnews.id

KABAR LAINNYA

Discussion about this post