Tentara Kembali Tembak Mati 3 Demonstran yang Protes Kudeta Militer Sudan

LIMAPAGI - Komite Dokter Pusat Sudan melaporkan bahwa, pasukan militer Sudan sudah menembak mati 3 orang demonstran selama protes nasional menentang kudeta miiter pada hari Sabtu, 30 Oktober 2021. 

Saat ini, gelombang protes puluhan ribu orang menuntut pemulihan pemerintah setelah kudeta militer masih terus berlangsung. 

Komite Dokter Pusat Sudan mengungkapkan, 3 pengunjuk rasa dibunuh oleh pasukan berada di kota kembar Omdurman di ibu kota Khartoum, selama protes nasional setelah kudeta militer.

Para demonstran turun ke jalan-jalan protokol setempat. berbaris di lingkungan di seluruh ibu kota.  Mereka meneriakkan “Aturan militer tidak dapat dipuji”. Selain itu  “Negara ini milik kita, dan pemerintah kita adalah sipil” . 

Para pengunjuk rasa telah menyerukan untuk kembali ke jalan demokrasi dan menolak tindakan kudeta militer Sudan. Selain itu, demonstran menuntut pembebasan tahanan.

Baca Juga: Kondisi Sudan Memanas, Kudeta Militer Tewaskan 10 Orang

Menurut TV Sudan, pasukan keamanan Sudan menutup sebagian besar jalan dan jembatan utama di Khartoum, kecuali jembatan Halfaya dan Soba.

Orang-orang juga turun ke jalan di kota-kota di Sudan tengah, timur, utara dan barat. Kerumunan bertambah banyak hingga ratusan ribu orang di Khartoum.

“Rakyat telah menyampaikan pesan mereka, bahwa mundur tidak mungkin dan kekuasaan adalah milik rakyat,” kata pengunjuk rasa Haitham Mohamed seperti dikutip Reuters. 

“Ini telah menjadi salah perhitungan sejak awal dan kesalahpahaman tentang tingkat komitmen, keberanian, dan kepedulian jalanan tentang masa depan Sudan,” kata Jonas Horner dari International Crisis Group.

Menteri kabinet yang ditunjuk warga sipil, mendukung protes yang dilancarakkan masyarakat tersebut. 

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Kabinet mengatakan militer tidak akan menemukan Sudan yang bebas atau kekuatan revolusioner demokratis sejati untuk menjadi mitra mereka dalam kekuasaan.

Di Khartoum tengah pada hari Sabtu, ada pengerahan militer besar-besaran dari pasukan bersenjata. Termasuk tentara dan Pasukan Pendukung Cepat paramiliter.

Puluhan ribu orang Sudan minggu ini memprotes pencopotan kabinet Perdana Menteri Abdalla Hamdok oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan pada hari Senin lalu.

Baca Juga: Isi Konsensus Lima Poin Hasil KTT ASEAN Terkait Kudeta Militer Myanmar

Dalam pengambilalihan militer, memicu tindakan keras mematikan terhadap pengunjuk rasa dan menyebabkan negara-negara Barat membekukan bantuan ratusan juta dolar.

Sedikitnya 13 orang tewas oleh pasukan keamanan dan beberapa aktivis pro-demokrasi ditahan.  Penentang pemerintah militer takut akan tindakan keras penuh dan pertumpahan darah lagi.

Namun, para pengunjuk rasa tetap menentang penyelenggara pemerintahan sementara, sambil melakukan pawai melawan perebutan kudeta militer Sudan.

 

KABAR LAINNYA

Discussion about this post