Earthquake Sickness, Rasa Pusing yang Dialami usai Gempa Terjadi

LIMAPAG - Gempa baru saja mengguncang beberapa wilayah di sekitar Jakarta. Dengan kekuatan 6,7 M, gempa terjadi di Banten, lalu terasa hingga ke Jakarta, Bekasi, hingga Bogor.

Media sosial pun langsung diramaikan dengan netizen yang mengunggah detik-detik saat gempa terjadi. Sebagian besar memberikan komentar merasa pusing hingga ingin muntah.

Baca Juga: Gempa M 6,7 Guncang Banten, Tidak Berpotensi Tsunami

Rupanya gejala pusing setelah gempa ini telah diteliti oleh seorang professor spesialis THT Yasuyuki Nomura dari Nihon University School of Medicine di Tokyo sejak tahun 2011.

Melansir dari JapanTimes, rasa pusing setelah gempa disebut juga dengan earthquake sickness atau ‘mabuk gempa’. Untuk menjaga keseimbangan, otak manusia memproses informasi dari kulit, otot, mata, dan telinga. Getaran yang kuat menganggu fungsi normal tersebut.

Efek pendeknya, gempa membuat orang menjadi pusing. Namun, ada pula efek jangka panjang dari gempa. Dalam beberapa kasus, stres dan kecemasan memicu ingatan akan goncangan membuat para penyintas merasa trauma.

Dalam penelitiannya tentang fenomena tersebut, Nomura menjulukinya sebagai sindrom pusing pasca gempa atau post-earthquake dizziness syndrome(PEDS).

Baca Juga: Gempa M 6,7 Banten, BMKG Minta Warga Waspada Gempa Susulan

Tim dari Nomura juga mensurvei para korban gempa kala itu. Sekitar 80 hingga 90 persen orang dewasa dan 50 hingga 70 persen anak-anak pernah mengalami serangan pusing mendadak saat gempa. Dalam banyak kasus, pusing terjadi ketika mereka berada di dalam ruangan dan duduk.

“Pusing lebih kecil kemungkinannya terjadi jika mereka berada di luar ruangan di tempat terbuka daripada di ruang tertutup di dalam ruangan. Berolahraga (di luar ruangan) akan membantu meringankan kecemasan yang terkait dengan memori tremor di otak,” kata Nomura.

Sara Agustriana
Sara Agustriana

Reporter for the Lifestyle Channel at Limapagi.id

Sara focuses about travel dan food.

KABAR LAINNYA