Biografi Singkat Sam Ratulangi, Seorang Tokoh Multidimensional

LIMAPAGI - Biografi singkat Sam Ratulangi, seorang tokoh multidimensional yang terkenal dengan filsafatnya “Si tou timou tomou tou” yang berarti manusia baru dapat disebut juga sebagai manusia.

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau yang biasa dikenal dengan sebutan Sam Ratulangi, lahir di Tondano, Sulawesi Utara pada 5 November 1890.

Berikut ini tim Limapagi akan membagikan tentang sejarah serta biografi singkat sosok tokoh Pahlawan Nasional Indonesia yang sangat berjasa.

Biografi Singkat Sam Ratulangi

(radarmiliter)

Sam Ratulangi merupakan putra dari pasangan Jozias Ratulangi dan Augustina Gerungan. Ayah Sam merupakan seorang guru di Hoofden School (setara dengan sekolah untuk anak-anak) di Desa Tondano.

Sedangkan sang ibu merupakan putri dari Jacob Gerungan, seorang Kepala Distrik di Tondano-Touliang. Sam Ratulangi juga termasuk anggota PPKI yang menghasilkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia sekaligus menjabat sebagai Gubernur Sulawesi yang pertama.

Sam Ratulangi juga merupakan seorang politikus, jurnalis, dan guru yang berasal dari Sulawesi Utara pada masa itu.

Biodata Sam Ratulangi

(quora)
NamaDr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi
PanggilanSam Ratulangi
Tempat dan Tanggal LahirTondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890
WafatJakarta, 30 Juni 1949
Agama-
Orang Tua

Ayah: Jozias Ratulangi

Ibu: Augustina Gerungan

PasanganEmilie Suzanne Houtman dan Maria Chatharina Josephine ‘Tjen’ Tambajong
Anak

Anak dari Emile: Corneille Jose Albert 'Odie' Ratulangi dan Emilia Augustina 'Zus' Ratulangi

Anak  dari Maria: Milia Maria Matulanda 'Milly' Ratulangi, Everdina Augustina 'Lani' Ratulangi, dan Wularingan Manampira 'Uki' Ratulangi

GelarPahlawan Nasional

Masa Kecil dan Pendidikan Sam Ratulangi

Sam Ratulangi mengawali pendidikan pertamanya di Europeesche Lagere School (ELS), yang merupakan sekolah dasar di zaman Belanda di Tondano.

Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya di tempat ayahnya mengajar, di Hoofden School di Tondano.

Karena Sam merupakan anak yang cerdas, ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Lalu pada tahun 1904, Sam berangkat ke Jakarta untuk masuk Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA).

Namun, setibanya di Jakarta, ia berubah pikiran dan memutuskan untuk belajar di sekolah menengah teknik Koningin Wilhelmina.

Kemudian Sam lulus pada tahun 1908 dan langsung mulai bekerja di perusahaan konstruksi rel kereta api bagian mesin di Priangan Selatan, Jawa Barat.

Ketika bekerja di sana, ia mendapatkan perlakuan yang tidak baik, upah dan penginapan karyawan dibanding-bandingkan dengan karyawan Eurasia.

Pendidikannya di Luar Negeri

Pada tahun 1912, Sam Ratulangi tiba di Amsterdam, Belanda untuk melanjutkan studinya, tetapi tidak sampai selesai, karena sang ibu jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Setelah itu Sam mendapatkan warisan, namun warisan tersebut dijual dan uangnya digunakan untuk biaya sekolah di Belanda.

Kemudian pada tahun 1913, ia mendapat sertifikat untuk mengajar matematika untuk tingkat sekolah menengah (Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek).

Dengan sertifikat tersebut, Sam melanjutkan pendidikannya di Vrije Universiteit van Amsterdam di Belanda selama dua tahun lagi.

Namun sayangnya, ia tidak bisa menyelesaikan pendidikannya tersebut dan tidak diperbolehkan mengikuti ujian. Karena Sam tidak memiliki sertifikat setingkat SMA pada saat itu.

Kemudian seorang dari Belanda, Mr. Abendanon bersimpati kepada orang-orang Indonesia dan memberikan Sam saran.

Setelah itu Sam Ratulangi mendaftarkan diri dan diterima di Universitas Zurich di Swiss. Pada tahun 1919, akhirnya ia memperoleh gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil).

Sam Ratulangi sebagai Aktivisme Nasional

Sebagai seorang yang memiliki jiwa nasionalisme, Sam Ratulangi juga aktif dalam berbagi organisasi. Ia pernah menjadi anggota Perhimpunan Indonesia.

Pada tahun 1914, ia terpilih menjadi ketua Perhimpunan Indonesia, pada masa dipimpin olehnya, Sam Ratulangi mengundang pembicara-pembicara yang sangat bersimpati pada pejuang Indonesia.

Ketika berada di Swiss, ia juga pernah masuk ke organisasi Asosiasi Mahasiswa Asia (Associations d'étudiants asiatiques), di sana ia bertemu dengan Jawaharlal Nehru dari India.

Kembali ke Tanah Air Indonesia

(monitor)

Pada tahun 1919, Sam Ratulangi kembali ke Indonesia dan pindah ke Yogyakarta untuk mengajar matematika dan sains di sekolah teknik Prinses Juliana School.

Sam mengajar selama tiga tahun di sekolah tersebut. Setelah itu ia pindah lagi ke Bandung dan mulai membangun perusahaan Assurantie Maatschappij Indonesia dengan Roland Tumbelaka.

Roland Tumbelaka merupakan seorang dokter yang berasal dari Minahasa. Menutur sejarah, Soekarno pernah bertemu dengan Sam Ratulangi ketika beliau sedang berkunjung ke Bandung untuk sebuah konferensi.

Sam Ratulangi sebagai Anggota PPKI

Pada awal Agustus 1945, Sam ditunjuk sebagai salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mewakili Sulawesi.

Pada saat Presiden memproklamasikan kemerdekaan, Sam Ratulangi hadir dalam upacara yang sakral tersebut.

Karena Sam dan anggota PPKI yang lain baru saja tiba di Batavia dari wilayah timur untuk mengikuti rapat PPKI.

Kemudian, rapat PPKI diadakan pada hari berikutnya dan melahirkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dan pengangkatan secara aklamasi Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Rapat tersebut juga membagikan ke dalam wilayah-wilayah administratif di mana Sam Ratulangi diangkat menjadi Gubernur Sulawesi.

Keluarga Sam Ratulangi

Menurut sejarah, Sam Ratulangi menikah dua kali dengan Emilie Suzanne Houtman dan memiliki dua anak, bernama Corneille Jose Albert 'Odie' Ratulangi dan Emilia Augustina 'Zus' Ratulangi.

Kemudian pada tahun 1926, mereka berdua bercerai. Setelah itu Sam menikah lagi dengan Maria Chatharina Josephine ‘Tjen’ Tambajong pada tahun 1928.

Pernikahannya dengan Maria, dikaruniai tiga anak, bernama Milia Maria Matulanda 'Milly' Ratulangi, Everdina Augustina 'Lani' Ratulangi, dan Wularingan Manampira 'Uki' Ratulangi.

Akhir Hayat Sam Ratulangi

(foursquare)

Pada 30 Juni 1949, Sam Ratulangi menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta dengan status sebagai tawanan musuh.

Kemudian jenazahnya dikebumikan di Tondano, Sulawesi Utara. Sebagai bentuk penghargaan atas semua jasa-jasanya, nama Sam Ratulangi diabadikan sebagai nama Bandar Udara di Manado yaitu Bandar Udara Sam Ratulangi dan Universitas Negeri Sam Ratulangi di Sulawesi Utara.

Bahkan, wajah Sam Ratulangi sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari, yaitu pada pecahan uang kertas Rp20.000.

Itulah biografi singkat Sam Ratulangi, beliau merupakan sosok yang tangguh dan tak kenal putus asa dalam mencari ilmu, walaupun gagal, ia tetap berusaha untuk terus maju menjadi yang terbaik demi bangsa Indonesia.

Arif Prasetyo
Arif Prasetyo

A seo writer who writes about "Evergreen" content.

Who is starting a career at the Limapagi company.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.