Jokowi Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi RI hingga Akhir 2021 Terkoreksi

LIMAPAGI - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV tahun 2021 akan terkoreksi. Hal ini lantaran adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk memutus mata rantai penyebaran pandemi Covid-19.

Kendati demikian, Jokowi menuturkan, indikator ekonomi lain seperti inflasi masih relatif terkendali dan terjaga di 1,5 persen. Inflasi di Tanah Air dinilai masih terkendali dibandingkan negara-negara lainnya.

Baca Juga: Dorong Kemandirian Pangan, Jokowi Minta Transformasi Pertanian Dipercepat

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, perkembangan tingkat inflasi sejak Januari hingga Juli 2021 berada di kisaran 1,33 hingga 1,68 peren secara tahunan (year on year/yoy). Dalam dua tahun terakhir, inflasi di atas 2 persen, terjadi terakhir pada bulan Mei 2020 di level 2,19 persen yoy.

“Pertumbuhan ekonomi kita di kuartal II tahun 2021 sebesar 7,07 persen, namun kita tetap waspada pertumbuhan ekonomi di kuartal III dan IV-2021 akan mengalami dampak dari kebijakan PPKM yang kita lakukan,” katanya dalam Pembukaan dan Seminar Nasional ISEI 2021 secara virtual di Jakarta, Selasa 31 Agustus 2021.

Baca Juga :Kata Jokowi soal Program Vaksinasi 'Door to Door'

Menurut dia, capaian yang diraih Indonesia akan lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain. Meskipun diperkirakan kembali menurun, Jokowi cukup puas dengan prakiraan tersebut.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyebut, tingkat inflasi bahkan lebih baik dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Jerman.

“Kemudian inflasi relatif terkendali masih relatif terjaga di 1,5 persen. AS yang biasanya hanya 0,5 persen, ini sudah berada di angka 5,4 persen, kemudian Jerman juga sudah di angka 3,8 persen biasanya di bawah 1 persen,” ujarnya.

Jokowi menambahkan, berdasarkan laporan BPS, pengeluaran lainnya, yakni pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh sebesar 7,54 persen yoy. Penyebab PMTB atau investasi tumbuh yaitu realisasi belanja modal anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) kuartal II 2021 tumbuh 45,56 persen dibanding belanja modal kuartal II 2020.

Selanjutnya, realisasi investasi berdasarkan laporan Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) pada kuartal II-2021 tumbuh 16,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pengeluaran lainnya yakni ekspor tumbuh sebesar 31,78 persen yoy.

Pertumbuhan ekspor disebabkan perekonomian sebagian besar negara mitra dagang utama Indonesia mengalami peningkatan. Ekspor non-migas pun tumbuh terutama pada komoditas bahan bakar mineral, besi dan baja, serta mesin atau peralatan listrik.

Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,93 persen yoy, dan konsumsi LNPRT tumbuh sebesar 4,12 persen yoy. Adapun yang menyebabkan konsumsi rumah tangga tumbuh terlihat dari nilai indeks keyakinan konsumen (IKK) sebesar 104,42 sedangkan kuartal II- 2020 sebesar 82,14.

“Angka ekspor kita juga di kuartal II naik 31,8 persen, konsumsi masyarakat di berada di 5,9 persen. Investasi sangat baik tumbuh 7,5 persen, Indeks kepercayaan pemerintah naik dari 97,6 menjadi 115,6,” ucapnya.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.