Biografi Singkat Letjen TNI Anumerta S. Parman, Pahlawan Revolusi Asal Wonosobo

LIMAPAGI - Biografi singkat Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman atau lebih dikenal dengan S. Parman yang merupakan salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia dan Tokoh Militer Indonesia.

S. Parman lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah. Beliau gugur pada peristiwa G30S/PKI dan kemudian mendapatkan gelar Letnan Jenderal Anumerta.

Berikut ini tim Limapagi akan membahas tentang sejarah serta biografi singkat Pahlawan Revolusi Indonesia, Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman.

BIOGRAFI SINGKAT S. PARMAN

(Youtube)

S. Parman merupakan anak keenam dari 11 bersaudara, ayahnya bernama Kromodiharjo, yang merupakan seorang pedagang. Meskipun Kromodiharjo hanya seorang pedagang, tetapi dia selalu berusaha agar anak-anaknya dapat memperoleh pendidikan yang layak.

S. Parman juga adik dari Sakirman yang merupakan salah satu petinggi PKI, anggota politbiro CC PKI. Walaupun bersaudara, tetapi mereka memiliki perbedaan dalam berpendapat.

Biodata Siswondo Parman

NamaSiswondo Parman
PanggilanS. Parman
Tempat dan Tanggal LahirWonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918 
WafatJakarta, 1 Oktober 1965
AgamaIslam
Orang TuaAyah: Kromodiharjo
PasanganSumiraharju
Anak-
GelarPahlawan Revolusi

Masa Muda dan Pendidikan 

S. Parman pertama kali mengenyam pendidikan di HIS (Hollandsch Inlandsche School) atau Sekolah Dasar Belanda di Wonosobo. Setelah lulus, ia kemudian melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebried Lager Onderwijs) di Yogyakarta.

S.Parman juga sempat melanjutkan pendidikan di AMS (Algemeene Middelbare School) yang setara dengan SMA, namun ayahnya meninggal dunia sehingga S. Parman tidak melanjutkan sekolah hampir 2 tahun.

Selama tidak bersekolah, S. Parman bersama dengan saudara-saudaranya membantu ibunya berdagang di pasar Wonosobo.

Tak lama, S. Parman melanjutkan pendidikannya dan lulus di AMS. S. Parman juga memilih melanjutkan di Sekolah Tinggi Kedokteran (STOVIA) di Jakarta. Namun, belum selesai pendidikan yang dia tempuh, tentara Jepang datang ke Indonesia sehingga dia tidak berhasil meraih gelar dokter.

S. Parman kemudian bekerja pada polisi militer Kempeitai Jepang. Namun, ia ditangkap karena pihak Jepang meragukan kesetiaan dari S. Parman, tetapi setelah itu dibebaskan.

Setelah bebas, ia dikirim ke Jepang untuk melakukan pelatihan intelijen dan bekerja kembali untuk Kempeitai menjadi penerjemah di Yogyakarta.

Karir Militer

S. Parman mengawali karir militernya dengan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dibentuk setelah proklamasi kemerdekaan.

Pada akhir Desember tahun 1945, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (PT) di Yogyakarta dengan pangkat Kapten.

Empat tahun kemudian, Desember 1949 ia diangkat sebagai Kepala Staf Gubernur MIliter Jakarta Raya dan dipromosikan menjadi Mayor.

Pada masa jabatannya ini, S. Parman berhasil menggagalkan plot oleh Angkatan Perang Ratu Adil atau APRA, kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Raymond Westerling, untuk membunuh komandan menteri pertahanan dan angkatan bersenjata.

Pada tahun 1951 S. Parman dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan lebih lanjut di Military Police School dan dikenal ahli dalam bidang intelijen. Dan di tanggal 11 November 1951, S. Parman diangkat menjadi Komandan Polisi MIliter di Jakarta.

S. Parman juga menduduki sejumlah posisi di Polisi Militer Nasional dan Departemen Pertahanan Indonesia sebelum dikirim ke London sebagai Atase Militer Kedutaan Indonesia pada tahun 1959.

Pada lima tahun berikutnya, tahun 1964, dengan pangkat Mayor Jenderal S. Parman diangkat menjadi Asisten Pertama Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) dengan tanggung jawab bidang intelijen untuk Kepala Staf Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani. Dan pada saat itu, pengaruh PKI tumbuh kuat dan dekat dengan penguasa.

Akhir Hayat S. Parman

(Youtube)

Karena PKI sudah merasa dekat dengan Presiden Soekarno dan sebagian rakyat juga sudah mulai terpengaruh, S. Parman yang merupakan perwira intelijen,  tahu banyak hal tentang kegiatan rahasia PKI.

Maka pada saat PKI mengusulkan agar kaum buruh dan tani dipersenjatai atau disebut dengan Angkatan Kelima, ia bersama sebagian besar Perwira Angkatan Darat lainnya menolak usul yang mengandung maksud tersembunyi itu. Dan itulah yang membuat ia dimusuhi dan menjadi korban pembunuhan PKI.

S. Parman dituduh sebagai dewan anggota Dewan Jenderal yang akan mengkudeta Presiden Soekarno. Maka pada pemberontakan yang dilancarkan oleh PKI tanggal 30 September 1965 yang dikenal dengan peristiwa G30S/PKI, S. Parman menjadi salah satu target yang akan diculik dan dibunuh.

Pada malam 30 September – 1 Oktober, tidak ada penjaga yang mengawasi rumah S. Parman di Jalan Syamsurizal No. 32.

Berdasarkan istri S. Parman, mereka terbangun dari tidur sekitar pukul 4.10 pagi oleh sejumlah suara orang tidak dikenal di samping rumah. S. Parman pun pergi keluara untuk menyelidiki suara tersebut dan dua puluh empat pria dengan mengenakan pakaian Tjakrabirawa atau pengawal Presiden menuju ke ruang tamu mereka.

Orang-orang tersebut mengatakan bahwa S. Parman harus dibawa untuk bertemu dengan Presiden. Sekitar 10 orang masuk ke kamar tidur saat S. Parman tengah berpakaian.

S. Parman pun meminta sang istri untuk menelepon komandannya Ahmad Yani,  namun perintah tersebut didengar oleh Pasukan tersebut. Segera Pasukan Tjakrabirawa merampas dan memutuskan kabel telepon tersebut.

Ia kemudian segera dimasukkan ke dalam truk dan dibawa ke basis gerakan Lubang Buaya di Halim Perdanakusuma. Disana ia disiksa bersama dengan enam perwira TNI Angkatan Darat lainnya.

Perwira TNI AD lainnya adalah Jenderal Soeprapto, Mayjen TNI Sutoyo, dan Kapten Pierre Tendean yang mengaku sebagai Jenderal AH Nasution. 

Sementara Jenderal Ahmad Yani, Letjen M.T. Haryono, Mayjen D.I. Panjaitan sudah tewas dieksekusi oleh pasukan Tjakrabirawa dirumahnya dan dibawa ke Lubang Buaya.

Malam itu bersama dengan tentara lain yang telah ditangkap hidup-hidup, S. Parman dieksekusi secara sadis dan mayatnya dibuang di sumur bekas.

Ironisnya masuknya nama S. Parman dalam daftar Jenderal yang harus dibunuh, datang dari kakak kandungnya sendiri, Ir. Sakirman yang merupakan petinggi di Politbiro CC PKI.

Pahlawan Revolusi

(Okemom)

Jenazah S. Parman dan 6 korban lainnya ditemukan pada tanggal 4 Oktober 1965, yaitu sekitar 75 jam setelah pembunuhan. Pemakaman kenegaraan pun diberikan pada tanggal 5 Oktober 1965 di Taman Makam Pahlawan, Kalibata.

Pada hari yang sama sebelum S. Parman disemayamkan, melalui SK Presiden Nomor 111/KOTI/1965, Presiden Soekarno mengukuhkan S. Parman sebagai Pahlawan Revolusi.

S. Parman gugur sebagai Pahlawan Revolusi untuk mempertahankan Pancasila. Bersama dengan enam perwira lainnya, ia  dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pangkatnya yang sebelumnya masih Mayor Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.

Untuk menghormati jasa para pahlawan tersebut, oleh pemerintah Orde Baru ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai Hari Kesaktian Pancasila sekaligus hari libur nasional.

Dan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, di depan sumur tua tempat jenazah mereka ditemukan, dibangun tugu dengan latar belakang patung ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut. Tugu tersebut dinamakan Tugu Kesaktian Pancasila.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.