Mendag Lutfi: Nilai Perdagangan Indonesia dengan Inggris Harus Ditingkatkan

LIMAPAGI - Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lufti, menyebutkan total nilai perdagangan bilateral dua negara antara Indonesia dan Inggris mencapai USD2,2 miliar.

Dari total nilai perdagangan tersebut, Indonesia menikmati surplus perdagangan dengan Inggris sebesar USD327 juta.

Baca Juga: Untung-Rugi Perdagangan Indonesia dan China Tak Gunakan Dolar AS

Nilai ekspor Indonesia ke Inggris di tahun 2020 sebesar USD1,28 miliar mencakup beberapa produk unggulan antara lain foodware, produk kayu, furnitur, hingga produk CPO.

"Indonesia dan Inggris telah memiliki hubungan bilateral selama 72 tahun. Di tahun 2020, Inggris merupakan negara peringkat ke-22 tujuan ekspor dan peringkat 20 sumber impor nonmigas bagi Indonesia," kata dia dalam UK SME's Business Summit 2021, Kamis, 29 Juli 2021.

Namun, kata Lutfi, sebagai anggota G20, nilai perdagangan Inggris dan Indonesia masih relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain di Asia.

"Bahkan di wilayah ASEAN saja Indonesia hanya menempati peringkat kelima setelah Singapura, Vietnam, Thailand, dan Malaysia," jelas dia.

Lutfi pun meyakini bahwa nilai perdagangan Indonesia dan Inggris ke depan harus dapat ditingkatkan lagi. Oleh karena itu pada bulan April kedua negara menandatangani pembentukan komite ekonomi dan perdagangan bersama atau join economy trade committee (JETCO).

Hal ini menandai babak baru hubungan bilateral antara kedua negara dan diharapkan dapat mendorong peningkatan hubungan ekonomi perdagangan dan investasi kedua negara di masa depan.

"Serta dapat membuka akses pasar barang dan jasa Indonesia ke pasar Inggris raya serta mendorong investasi Inggris ke Indonesia," ujar dia.

Selain itu JETCO juga akan membuka kemungkinan kemitraan ekonomi dan perdagangan yang lebih komprehensif antar kedua negara ke depannya.

Lutfi menegaskan pasca brexit masih terdapat beberapa tantangan utama bagi produk Indonesia untuk dapat memasuki pasar Inggris. Standar Inggris sangat tinggi dan terkadang membutuhkan private certification sehingga membebani pelaku usaha terutama UMKM.

"Selain itu beberapa kebijakan Inggris pasca brexit juga akan mengalami perubahan dari aturan Uni Eropa sebelumnya. Sehingga dapat berpotensi menjadi hambatan bagi eksportir Indonesia," jelas dia.

Baca Juga: Kegiatan Perdagangan Mulai Dibuka, Ekonomi Nasional Bisa Kembali Pulih?

Diharapkan dengan adanya JETCO dapat membantu mengindentifikasi dan menghilangkan hambatan perdagangan bagi eksportir Indonesia untuk dapat memasuki pasar Inggris.

Ia juga ingin mengapresiasi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBNI) yang berperan serta aktif mendukung perdagangan Indonesia. Ke depan, BNI dapat berperan dalam melayani aktivitas pebisnis Indonesia di negara mitra, baik eksportir maupun importir termasuk membantu UMKM dalam melakukan ekspor dan diaspora Indonesia untuk dapat menembus pasar global.

"Tidak hanya memfasilitasi dari sisi pembiayaan tapi juga advisory. Hal ini termasuk membantu pebisnis Indonesia yang ingin mendirikan perusahaan di luar negeri. Yang mana semua pelayanan tersebut dapat membantu Indonesia meningkatkan ekspor," tandasnya.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post