BPOM Izinkan Penggunaan Molnupiravir untuk Obat Covid-19

LIMAPAGI - Molnupiravir kini dapat digunakan sebagai obat Covid-19. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan izin resmi Molnupiravir, tetapi hanya untuk penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA).

Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan, hasil evaluasi dari aspek keamanan, pemberian Molnupiravir relatif aman dan memberikan efek samping yang dapat ditoleransi.

Efek samping yang paling sering dilaporkan di antaranya mual, sakit kepala, mengantuk, nyeri abdomen, dan nyeri orofaring.

"Setelah melalui evaluasi terhadap data-data hasil uji klinik bersama dengan Tim Ahli Komite Nasional Penilai Obat serta asosiasi klinisi untuk persetujuan EUA ini, Badan POM bersama Kementerian Kesehatan juga akan terus memantau keamanan penggunaan Molnupiravir di Indonesia," ujar Penny dalam keterangan tertulis, Jumat, 14 Januari 2022.

Baca Juga:

Dia menyebut, hasil uji non-klinik dan uji klinik, terhadap Molnupiravir juga tidak menyebabkan gangguan fungsi hati. Namun, Molnupiravir dilarang dikonsumsi wanita hamil dan yang sedang subur.

Penny menambahkan, berdasarkan hasil uji klinik fase 3, Molnupiravir juga menunjukkan dapat menurunkan risiko dirawat di rumah sakit.

"Atau kematian sebesar 30 persen pada pasien Covid-19 derajat ringan hingga sedang, dan 24,9 persen pada pasien Covid-19 ringan," tutur Penny.

Lebih jauh, Penny menjelaskan Molnupiravir yang disetujui BPOM berupa kapsul 200 mg yang didaftarkan oleh PT. Amarox Pharma Global dan diproduksi Hetero Labs Ltd., India.

"Obat [Molnupiravir] ini diindikasikan untuk pengobatan infeksi Covid-19 ringan sampai sedang pada pasien dewasa (usia 18 tahun ke atas) yang tidak memerlukan pemberian oksigen dan memiliki peningkatan risiko menjadi infeksi Covid-19 berat," terangnya.

Dosis dan batas penggunaanya untuk infeksi Covid-19 ringan dan pasien dewasa diberikan dua kali sehari sebanyak 4 kapsul (@200 mg) selama 5 hari.

KABAR LAINNYA