Biografi Singkat Sayuti Melik, Tokoh yang Terlibat dalam Teks Proklamasi

LIMAPAGI - Biografi singkat Sayuti Melik, tokoh yang satu ini sangat berperan penting dalam terwujudnya kemerdekaan Indonesia.

Sayuti Melik memiliki nama asli Mohamad Ibnu Sayuti, tokoh ini lahir di Sleman, Yogyakarta pada 22 November 1908. Ia lahir dari pasangan Abdul Mu'in alias Partoprawito dan Sumilah.

Berikut ini tim Limapagi akan membahas tentang sejarah serta biografi singkat dari tokoh penting yang namanya tercantum sebagai penulis teks Proklamasi.

Biografi Singkat Sayuti Melik

(wikipedia) Sayuti Melik

Ayah dari Sayuti Melik merupakan seorang kepala desa di Sleman, Yogyakarta. Sayuti memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sejak ia masih kecil.

Sayuti Melik memiliki seorang istri bernama Soerastri Karma Trimurti, ia merupakan seorang wartawati dan aktivis perempuan di zaman pergerakan bahkan setelah Indonesia merdeka.

Pada saat pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk pada 7 Agustus 1945, Sayuti Melik adalah salah satu anggotanya.

Biodata Sayuti Melik

NamaMohamad Ibnu Sayuti
PanggilanSayuti Melik
Tempat dan Tanggal LahirSleman, Yogyakarta, 22 November 1908
Wafat27 Februari 1989
Agama-
Orang TuaAyah: Abdul Mu'in alias Partoprawito

Ibu: Sumilah
PasanganSoerastri Karma Trimurti
Anak-
GelarPahlawan Nasional

Masa Kecil dan Pendidikan Sayuti Melik

Sifat nasionalisme sudah ditanamkan sejak kecil dari ayahnya. Ketika itu ayahnya yang menentang kebijaksanaan pemerintah Belanda yang menggunakan sawahnya untuk ditanam tembakau.

Pendidikan pertama yang ditempuh oleh Sayuti yaitu di Sekolah Ongko Loro (setara SD) di Desa Srowolan hingga kelas 4 yang kemudian dilanjutkan hingga mendapat ijazah di Yogyakarta.

Saat itu, ketika ia sedang belajar di Sekolah Guru di Solo pada tahun 1920, Sayuti mempelajari lagi sifat nasionalisme dari guru sejarahnya yang berkebangsaan Belanda, H. A. Zurink.

Ketika menginjak usia remaja, Sayuti sudah mulai gemar membaca beberapa majalah, salah satunya Majalah Islam Bergerak pimpinan K. H. Misbach di Kauman, Solo.

Sayuti Melik dalam Peristiwa Rengasdengklok

(today.line)

Sayuti Melik merupakan salah satu pemuda kelompok Menteng 31 yang saat itu berperan dalam penculikan Soekarno dan Bung Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945.

Tujuan Sayuti dan para pemuda yang lain membawa Soekarno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, yaitu agar tidak terpengaruh oleh Jepang.

Di sana, mereka menekankan dan meyakinkan Soekarno, bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang sudah siap untuk melawan Jepang, apapun risikonya.

Kemudian Achmad Soebardjo yang berada di Jakarta, menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di sana.

Lalu, Achmad Soebardjo menjemput Soekarno dan Hatta untuk kembali ke Jakarta, dan akhirnya Achmad Soebardjo pun berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan.

Penulisan Teks Proklamasi

Naskah teks proklamasi saat itu disusun oleh Soekarno, Hatta dan Achmad Soebardjo di rumah Laksamana Muda Maeda.

Mewakili para pemuda, Sukarni dan Sayuti Melik, masing-masing dari mereka sebagai pembantu Soekarno dan Hatta untuk ikut menyaksikan peristiwa tersebut.

Tapi sayangnya, ketika teks proklamasi dibacakan, para pemuda tidak setuju, karena isi naskah tersebut dianggap seperti buatan Jepang.

Pada suasana yang tegang itu, Sayuti memberi gagasan agar teks proklamasi ditandatangani Soekarno dan Hatta saja, atas nama bangsa Indonesia.

Usulnya tersebut diterima oleh Soekarno, saat itu juga Soekarno langsung memerintahkan Sayuti untuk mengetiknya. Ia mengubah kalimat “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”.

Kehidupan Sayuti Melik setelah Indonesia Merdeka

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sayuti Melik menjadi salah satu anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Lalu pada tahun 1946, atas perintah Mr. Amir Syarifudin, Sayuti ditangkap oleh Pemerintah RI karena dianggap sebagai orang dekat Persatuan Perjuangan dan juga dianggap bersekongkol dan turut terlibat dalam “Peristiwa 3 Juli 1946”.

Namun ketika diperiksa oleh Mahkamah Tentara, Sayuti dinyatakan tidak bersalah. Kenyataannya, pada saat Agresi Militer Belanda II, ia ditangkap dan dipenjarakan di Ambarawa dan dibebaskan setelah selesai KMB.

Akhir Hayat Sayuti Melik

Perjuangan dan pengabdiannya terhadap Indonesia patut untuk diteladani, hingga ia wafat pada 27 Februari 1989. Kemudian jenazahnya dikebumikan di Taman Makan Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Sebagai bentuk penghormatan, Sayuti Melik diberikan penghargaan oleh Presiden Soekarno yaitu Bintang Mahaputra tingkat V tahun 1961 dan penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana II pada tahun 1973 oleh Presiden Soeharto.

Arif Prasetyo
Arif Prasetyo

A seo writer who writes about "Evergreen" content.

Who is starting a career at the Limapagi company.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.