La Nina Tiba, Kementerian PUPR Siapkan Sejumlah Langkah Preventif

LIMAPAGI - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyiapkan sejumlah langkah preventif menghadapi fenomena La Nina. 

Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi dampak buruk bahaya hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang, yang dipicu fenomena tersebut

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian PUPR Mohammad Zainal Fatah mengatakan, berdasarkan hasil kajian dari beberapa pihak menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan kejadian bencana hidrometeorologi merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim global. 

"Untuk negara tropis seperti Indonesia, perubahan iklim ini berdampak pada meningkatnya variabilitas pola dan intensitas hujan," katanya dalam keterangan tertulis dikutip Minggu, 31 Oktober 2021.

Baca Juga: Mitigasi La Nina, Kementerian PUPR Minta Keterlibatan Ahli Teknik Hidraulik

Sebagai upaya mengantisipasi fenomena badai La Nina, pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah seperti mengaktifkan Satgas Penanggulangan Bencana Pusat. 

Satgas bertugas melakukan monitoring terhadap semua infrastruktur yang ada di Indonesia agar bisa mengetahui volume banjir yang bisa ditampung.

Kemudian juga, melaksanakan Standar Operasi Prosedur (SOP) siaga bencana seperti mengosongkan 205 bendungan dengan volume tampungan sebesar 4,7 miliar meter kubik.

Upaya lain yakni dengan membuka seluruh pintu pengeluaran 12 kolam retensi dengan volume tampungan 6,8 juta meter kubik dan bendung gerak dengan volume tampungan 65,8 juta meter kubik.

Baca Juga: Usut Dugaan Suap, KPK Geledah Kantor DPRD hingga PUPR di Tabanan Bali

Selanjutnya, mengempiskan 12 bendung karet dengan volume tampungan 7,3 juta meter kubik. Lantas, membuka tunnel pengendali banjir dan floodway, dan mengoperasikan 192 unit pompa pengendali banjir dengan kapasitas 263,4 meter kubik per detik.

Prediksi La Nina juga digunakan untuk mengantisipasi kecelakaan konstruksi pada pembangunan bendungan on-going dengan menempatkan petugas di hulu Coffer Dam sejauh 5 –10 km, untuk mengamati pola debit air yang masuk di sungai yang sedang dibangun bendungannya. 

Selain itu juga menginventarisasi bahan banjiran yang ada di masing-masing BBWS/BWS yang tersebar di 34 provinsi seperti geobag dan kawat bronjong serta alat berat seperti dump truck, excavator, dan perahu karet, termasuk kesiapsiagaan petugas.

 

KABAR LAINNYA

Discussion about this post