Tak Ada Kepastian di RI, Pengungsi Rohingya dan Afghanistan Alami Stres

LIMAPAGI - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah KH Anwar Abbas mengungkapkan, tak adanya kepastian tentang nasib dan masa depan membuat pengungsi Afghanistan dan Rohingya dari Myanmar di Indonesia mengalami stres.

"Cukup banyak dari mereka yang sudah stres dan tidak lagi tahu harus berbuat apa,” kata Anwar dalam keterangan tertulis, Jumat, 7 Januari 2022.

Dia menjelaskan, pengungsi yang ditempatkan di sejumlah penampungan di Indonesia itu sudah dalam keadaan sengsara. Mereka tidak sungkan menunjukkan keputusasannya dengan aksi protes yang ekstrem.

"Mereka tidak segan-segan melakukan gerakan jahit mulut di Pekanbaru. Bahkan ada diantara mereka yang nekat melakukan aksi bakar diri di depan kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di Kota Medan,” tutur Anwar.

Baca Juga: Pengungsi Rohingya Gugat Facebook Rp2,1 Triliun atas Kekerasan di Myanmar

Upaya itu dilakukan sebagai tanda protes dan ungkapan keprihatinan agar mendapatkan perhatian serius dari masyarakat dunia terutama PBB.

Sebab itu, Anwar mendesak Pemerintah Indonesia dan UNHCR sebagai organisasi PBB yang fokus kepada pengungsi memberikan perhatian khusus terhadap para pencari suaka dan para pengungsi tersebut.

Baik pemerintah maupun PBB harus secepatnya bisa mencarikan solusi dan atau jalan keluar bagi kebaikan nasib dan masa depan pengungsi Afghanistan dan Rohingya dari Myanmar.

"Kita harus tahu dan sadar bahwa mereka adalah juga manusia yang juga punya hak untuk bisa hidup dengan layak dan bebas di muka bumi milik Tuhan ini," tandasnya.

KABAR LAINNYA