FAO Sebut Ketahanan Pangan dan Ekonomi Dunia Terganggu Imbas Covid-19

LIMAPAGI - Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) menyebutkan hampir dua tahun pandemi Covid-19 merebak di seluruh dunia telah menyebabkan 132 juta orang menderita. Hal ini disebabkan lantaran mangkraknya sistem ekonomi dan krisis pangan yang terjadi hampir di seluruh negara.

Perwakilan Ad Interim FAO untuk Indonesia, Richard Trenchard mengatakan, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi seluruh pemangku kebijakan. Maka diperlukan solusi yang sangat bijak untuk tetap menjaga ekonomi dan kesehatan.

“Selain dampak kesehatan yang luar biasa, Covid-19 telah mengganggu ketahanan pangan dan ekonomi dunia. Secara global, setidaknya lebih dari 132 juta orang diprediksi menderita sebagai akibat dari Covid-19,” kata Richard dalam diskusi daring, Selasa 29 Juni 2021.

Menurut dia, dengan kondisi yang begitu memprihatinkan seperti sekarang, FAO tidak ingin kejadian ini terulang. Oleh karena itu, perlu adanya upaya deteksi dini terkait dengan potensi penyebaran penyakit melalui melalui hewan.

Richard menjelaskan, FAO menjalin kerja dengan pemerintah untuk mencegah ancaman pandemi yang berasal dari hewa ataau Zoonosis di Indonesia. Sehingga negara dapat dengan cepat merespons dan mengendalikan wabah zoonosis.

“Kita tidak ingin keadaan darurat kesehatan global seperti ini terjadi lagi. Kita perlu mendeteksi potensi wabah sedini mungkin dan FAO selalu siap bekerja sama dengan Indonesia untuk merespons lebih awal dan secara efektif,” kata dia.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Nasrullah menjelaskan, Indonesia sangat mengapresiasi kerja sama tersebut. Bahkan, menjadi salah satu negara pelopor program Global Health Security Agenda (GHSA) untuk menjaga dunia aman dari ancaman penyakit menular.

Tak hanya  itu, Indonesia juga telah aktif berkontribusi sebagai anggota tetap Tim Pengarah sejak tahun 2016 – 2024. Kontribusi besar dalam inisiatif global ini juga mendapat perhatian besar dari presiden.

"Kerja sama ini diharapkan bisa melakukan pencegahan, deteksi dini dan pengendalian penyakit-penyakit menular baru, terutama yang berpotensi mengancam kesehatan dan ekonomi Indonesia. Selain itu, semoga bisa berkontribusi pada peningkatan kesehatan manusia, ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat," papar Nasrullah.

Program ini juga selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) pemerintah, terutama terkait keamanan pangan dan kesehatan. Melalui kegiatan ini bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan komitmen bersama dalam melangkah ke depan.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post