Biografi Singkat Sukarni Kartodiwirjo, Tokoh Dalam Peristiwa Rengasdengklok

LIMAPAGI - Biografi singkat Sukarni Kartodiwirjo, tokoh pahlawan yang satu ini sangat lekat dengan peristiwa penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.

Sukarni Kartodiwirjo lahir di Blitar, Jawa Timur pada 14 Juli 1916. Banyak orang yang tidak tahu mengenai sejarah dari Pahlawan yang satu ini.

Berikut ini tim Limapagi akan membahas tentang sejarah serta biografi singkat tentang Sukarni Kartodiwirjo yang berperan besar dalam Kemerdekaan Indonesia.

Biografi Singkat Sukarni Kartodiwirjo

(wikipedia)

Sukarni merupakan anak dari pasangan Dimoen Kartodiwirjo dan Supiah. Bisa dibilang keluarga Sukarni merupakan keluarga yang berkecukupan jika dibandingkan dengan penduduk lainnya.

Sukarti Kartodiwirjo adalah anak ke-4 dari sembilan bersaudara. Beliau terkenal sebagai sosok aktivis militan yang sangat membenci Belanda.

Bahkan sejak kecil ia sering sekali berkelahi dengan anak-anak kolonial Belanda. Ketika usianya 14 tahun, perjuangan Sukarni untuk mengusir penjajah dari Indonesia sudah terlihat.

Pada usianya yang remaja, beliau sudah aktif di dunia Pergerakan Nasional untuk memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.

Beliau masuk dan menjadi anggota perhimpunan Indonesia Muda pada tahun 1930. Sejak saat itu, ia terus berkembang menjadi pemuda militan dan revolusioner.

Biodata Sukarni Kartodiwirjo

NamaSukarni Kartodiwirjo
Panggilan-
Tempat dan Tanggal LahirBlitar, Jawa Timur, 14 Juli 1916
WafatJakarta, 7 Mei 1971
AgamaIslam
Orang Tua

Ayah: Dimoen Kartodiwirjo

Ibu: Supiah

Pasangan-
Anak-
GelarPahlawan Nasional

Masa Kecil dan Pendidikan Sukarni

Ayahnya memasukkan Sukarni ke Sekolah Mardisiswo di Blitar, sekolah rakyat seperti Taman Siswa Ki Hajar Dewantara.

Di sekolah ini, Sukarni bertemu dengan gurunya yang bernama Mohammad Anwar. Gurunya tersebut memiliki jiwa nasionalisme yang sangat kental.

Sebagai anak muda, Sukarni terkenal sebagai anak yang suka berbuat onar. Ia sering sekali menentang dan membuat keributan dengan orang Belanda.

Bahkan Sukarni pernah menantang Belanda dengan cara mengirimkan surat ke anak-anak Belanda tersebut.

Anak-anak dari Belanda tersebut menerima tantangan tersebut. Akhirnya terjadinya perkelahian antara Sukarni dan puluhan temannya dengan anak-anak Belanda tersebut di Kebun Raya, Blitar.

Pada akhirnya, kelompok Sukarni dan kawan-kawan berhasil memenangkan perkelahian tersebut dan anak-anak Belanda yang kalah dilemparkan ke kolam.

Sukarni Sebagai Aktivis Pergerakan

Sukarni pernah bersekolah di MULO dan akhirnya dikeluarkan karena ia sering sekali mencari masalah dengan pemerintah kolonial Belanda.

Sejak dikeluarkan dari sekolah, semangat Sukarni jadi lebih membara untuk mengusir para penjajah Belanda tersebut dari Indonesia.

Setelah itu Sukarni bersekolah di Yogyakarta dan berpindah lagi ke Jakarta pada sekolah kejuruan guru. Terakhir, Sukarni disekolahkan di Bandung berkat bantuan dari Ibu Wardoyo (kakak Bung Karno).

Semasa sekolahnya di Bandung, Sukarni lebih mengenal bagaimana dunia politik. Pada tahun 1936, Sukarni diangkat menjadi ketua Pengurus Besar Indonesia Muda.

Tapi pihak Belanda mencurigai akan adanya pemberontakan. Pada tahun yang sama, pemerintah kolonial Belanda melakukan penggerebekan terhadap para pengurus Indonesia Muda.

Namun Sukarni berhasil lolos dan kabur dari sana, kemudian ia hidup dalam pelarian selama beberapa tahun lamanya.

Peristiwa Rengasdengklok

(berdikarionline)

Tokoh Sukarni Kartodiwirjo sangat lekat dengan peristiwa Rengasdengklok. Waktu itu pada masa penjajahan Jepang dan terdengar kekalahan Jepang.

Beberapa kelompok yang dipimpin oleh Sutan Syahrir bersepakat, bahwa inilah waktu yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Sukarni dan kelompok pemuda lainnya mendesak Soekarno dan Hatta, namun ditolak. Akhirnya terjadi perdebatan yang sengit yang berakhir dengan penculikan kedua tokoh tersebut.

Penculikan tersebut bukan semata-mata untuk mengkhianati Indonesia, melainkan untuk menjauhkan Soekarno dan Hatta dari pengaruh Jepang.

Kedua pemimpin tersebut dibawa dan diasingkan ke Rengasdengklok. Pada akhirnya, semua pihak setuju untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, Sukarni beserta kelompoknya saling bahu-membahu untuk meneruskan berita penting ini ke semua masyarakat Indonesia.

Lalu terbentuklah organisasi Comite Van Aksi, semacam panitia gerak cepat. Organisasi tersebut terbentuk pada 18 Agustus 1945.

Tugasnya adalah menyebarkan kabar berita kemerdekaan ke seluruh penjuru Indonesia. Khusus untuk para pemudanya dibentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan untuk buruh BBI (Barisan Buruh Indonesia).

Kisah Sukarni Setelah Kemerdekaan Indonesia

Ketika RI berkedudukan di Yogyakarta, Sukarni menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Perjuangan (PP) di bawah ketua Tan Malaka.

Dibentuknya PP bertujuan untuk selalu menolak perundingan terhadap pemerintah Belanda. Aksinya tersebut membuat Sukarni dimasukkan ke penjara pada tahun 1946.

Akhir Hayat Sukarni Kartodiwirjo

(indahwahyuni)

Sukarni menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta pada 7 Mei 1971. Beliau adalah sosok tokoh pejuang kemerdekaan yang sangat menentang Belanda.

Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Sebagai penghargaan, gelar Pahlawan Nasional disematkan oleh Presiden Joko Widodo, pada 7 November 2014.

Itulah biografi singkat Sukarni Kartodiwirjo, meskipun pada masa Orde Baru Sukarni tidak ditonjolkan perannya sebagai penggerak proklamasi, namun saat ini namanya telah dicatat sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo.

Arif Prasetyo
Arif Prasetyo

A seo writer who writes about "Evergreen" content.

Who is starting a career at the Limapagi company.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.