Masih Muda Jangan Rebahan Terus, Olahraga 60 Menit per Hari Itu Penting!

LIMAPAGI - Saat pandemi Covid-19, aktivitas remaja cenderung sedikit. Remaja kurang aktif, lebih banyak duduk dan screen time yang meningkat karena menjalani sekolah secara online, serta pola tidur yang tidak beraturan.

Padahal jika melihat pandemi seperti sekarang ini, aktivitas fisik hingga olahraga justru jadi satu hal yang cukup penting bagi anak muda. Hal tersebut dikatakan oleh Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, K-APK yakni seorang dokter spesialis kedokteran olahraga konsultan patient care and community di RSUI sekaligus staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Baca Juga: Lari atau Skipping, Mana yang Lebih Cepat Menurunkan Berat Badan?

"Sehingga dapat merusak kesehatan fisik dan mental serta membatasi kesempatan untuk menjalani kehidupan yang memuaskan sebagai orang dewasa," katanya dari keterangan resmi yang diterima Limapagi.

Dokter Tata, sapaan akrabnya mengatakan bahwa duduk yang terlalu lama akan menciptakan beban yang statis, sehingga otot akan berkontraksi secara terus-menerus tanpa adanya fase pemanjangan atau pemendekan, yang akhirnya dapat mengganggu sirkulasi otot dan menimbulkan kelelahan.

Saat aktivitas fisik menurun, tingkat kebugaran tubuh juga akan menurun dan hal ini juga dapat meningkatkan masalah kesehatan fisik dan mental.

"Aktivitas fisik pada anak dan remaja sangatlah penting dan memiliki banyak manfaat, seperti memelihara tingkat kesehatan dan kebugaran jasmani, membangun kesehatan otot dan tulang, mengurangi gejala kecemasan dan depresi," tambahnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa aktivitas fisik seperti olahraga dilakukan bertujuan untuk membuat tubuh lebih sehat, namun sehat belum tentu bugar. Untuk itu agar bugar latihan fisik harus dilakukan.

Menurutnya masih banyak masyarakat sering salah arti terkait terminologi aktivitas fisik, latihan fisik dan olahraga. Berikut pengertian singkatnya.

  • Aktivitas fisik adalah seluruh gerakan tubuh sebagai hasil kontraksi otot rangka, yang akan meningkatkan energi ekspenditur, misalnya melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu atau mencuci.
  • Latihan fisik adalah aktivitas fisik yang terencana, terstruktur dengan gerakan yang dilakukan berulang untuk memperbaiki/memelihara komponen kebugaran jasmani, misalnya latihan mengangkat beban beberapa set dan dengan repetisi tertentu.
  • Sementara, olahraga adalah aktivitas fisik yang mempunyai ciri permainan, mempunyai aturan tertentu, dan mengandung unsur kompetisi, misalnya pada olahraga pertandingan basket atau bulutangkis.

Selanjutnya ia mengatakan semakin tinggi intensitas aktivitas fisik dan latihan fisik, semakin banyak manfaat yang didapatkan, namun bahaya dan risikonya juga semakin tinggi.

"Sehingga perlu diperhatikan pula prinsip BBTT (Baik, Benar, Terukur, Teratur) selama melakukan latihan fisik. Baik, artinya dimulai sejak dini sesuai dengan kondisi fisik, Benar, dilakukan secara bertahap dimulai dari pemanasan, dilanjutkan dengan latihan inti, dan diakhiri dengan pendinginan, Terukur, intensitas latihan sesuai zona latihan dengan denyut nadi latihan (DNL), Teratur, dilakukan 3-5 kali per minggu selang sehari untuk istirahat," ujarnya.

WHO sendiri merekomendasikan latihan fisik untuk anak dan remaja yaitu minimal 60 menit per hari (melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat, sebagian besar adalah aktivitas aerobik), serta minimal 3 kali per minggu (melakukan aktivitas fisik intensitas berat untuk meningkatkan kekuatan otot dan massa tulang). Selain itu diharapkan screen time maksimal 2 jam per hari. Untuk waktu tidur, tidur berkualitas baik sekitar 9-11 jam per hari.

Baca Juga: PON XX Papua Jadi Ajang Mendorong Generasi Muda untuk Cinta Olahraga Sejak Dini

Jadi dapat disimpulkan aktivitas fisik, latihan fisik hingga olahraga dapat menjadi strategi tetapi yang efektif untuk gejala depresi dan kecemasan pada remaja selama masa pandemi. 
 

Afrizal Abdul
Afrizal Abdul

Reporter who focuses on lifestyle, is more in-depth about health, travel and parenting.

Education: State Polytechnic of Creative Media Jakarta, Diploma in Communication Studies.

First plunged into the media industry focused on lifestyle for two years, and has a strong network of relationships. Either with doctors, psychologists or influencers.

He has experience as an intern at DepokPos, by writing on various issues, from travel, culinary to sports. Furthermore, working experience at Akurat.co as a lifestyle reporter.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.