Laba Bersih Astra International Anjlok 22 Persen di Semester I-2021

LIMAPAGI - PT Astra International Tbk (ASII) membukukan kenaikan pendapatan bersih konsolidasian pada semester I-2021. Pendapatan bersih ASII naik 20 persen menjadi Rp107,4 triliun, dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondroketika, mengatakan sebagian besar bisnis ASII mengalami perbaikan pada semester I tahun 2021, dibandingkan dengan periode sama tahun 2020.

Baca Juga: Bambang Brodjonegoro Ditunjuk Jadi Komisaris Independen Astra International

"Saat itu, ASII menghadapi pembatasan-pembatasan bisnis yang signifikan terkait dengan penanggulangan pandemi Covid-19 pada kuartal kedua tahun 2020," kata dia dalam keterangannya, Kamis, 29 Juli 2021.

Meskipun kondisi bisnis telah membaik, menurut Djony, kinerja ASII masih akan menantang hingga akhir tahun ini, mengingat kinerja bisnis dan kepercayaan konsumen masih akan terdampak oleh situasi pandemi Covid-19 di Indonesia yang sangat memprihatinkan akhir-akhir ini.

Namun neraca keuangan dan posisi pendanaan masih tetap kuat. Ia pun memastikan kesehatan dan keselamatan karyawan di tengah situasi pandemi Covid-19 ini tetap menjadi prioritas utama.

"Karyawan kami adalah kekuatan terbesar Grup. Upaya yang telah dilakukan oleh seluruh karyawan kami dalam menanggapi tantangan yang dihadapi telah berkontribusi terhadap ketahanan Grup pada masa sulit ini," ujar dia.

Sementara itu, laba bersih ASII susut 22 persen mencapai Rp8,8 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan semester pertama 2020. Ia menjelaskan penurunan laba bersih karena pada tahun lalu ASII memperoleh keuntungan dari penjualan saham Bank Permata.

"Kalau tanpa memperhitungkan keuntungan penjualan ini, laba bersih Grup meningkat 61 persen, terutama disebabkan kinerja divisi otomotif yang lebih baik," kata dia.

Baca Juga: Ini Gunanya Baca Laporan Keuangan Emiten Sebelum Membeli Saham

Nilai aset bersih per saham pada 30 Juni 2021 sebesar Rp4.012, meningkat 4 persen dibandingkan pada 31 Desember 2020. Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan divisi jasa keuangan mencapai Rp20,5 triliun pada semester pertama, dibandingkan Rp7,3 triliun pada akhir tahun 2020.

Hal ini disebabkan oleh kinerja penjualan yang membaik, serta realisasi belanja modal dan keperluan modal kerja yang lebih rendah. Jika volume penjualan terus membaik hingga akhir tahun, belanja modal dan modal kerja dapat mengalami peningkatan.

Adapun utang bersih anak perusahaan jasa keuangan ASII meningkat dari Rp39,2 triliun pada akhir tahun 2020 menjadi Rp41,2 triliun pada 30 Juni 2021.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post