Biografi Singkat Sahardjo, Tokoh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia

LIMAPAGI - Biografi singkat Dr. Sahardjo, seorang tokoh yang berperan penting dalam bidang hukum di Indonesia.

Dr. Sahardjo atau Sahardjo lahir di Solo pada 26 Juni 1909. Beliau merupakan tokoh penting yang berperan dalam bidang hukum di Indonesia.

Terutama pada hasil buah pemikirannya yang penting, yaitu dalam Undang-Undang Warga Negara Indonesia tahun 1947 dan Undang-Undang Pemilihan Umum pada tahun 1953.

Berikut ini tim Limapagi akan membahas tentang sejarah serta biografi mengenai seorang tokoh penting dalam pemerintahan Indonesia pada masanya.

Biografi Singkat Sahardjo

(ikpni) Dr. Sahardjo, SH

Beliau merupakan putra sulung dari Raden Ngabei Sastroprayitno, yang merupakan seorang pegawai dan abdi dalem di Keraton Surakarta.

Sahardjo pernah masuk ke pendidikan di bidang kedokteran, namun ia merasa tidak cocok, karena ia takut melihat darah.

Dengan kejadian seperti itu, ia sadar bahwa dirinya tidak memiliki bakat di bidang kedokteran dan akhirnya ia pindah ke sekolah Algemeene Middelbare School (AMS).

Setelah beranjak dewasa dan akhirnya ia menikah dengan gadis bernama Siti Nuraini. Istrinya tersebut merupakan gadis yang cerdas, dari situlah ketertarikan Sahardjo pada Siti Nuraini.

Biodata Sahardjo

NamaDr. Sahardjo, SH
PanggilanSahardjo
Tempat dan Tanggal LahirSolo, 26 Juni 1909
WafatJakarta, 13 November 1963
Agama-
Orang TuaAyah: Raden Ngabei Sastroprayitno

Ibu: -
PasanganSiti Nuraini
Anak-
GelarPahlawan Nasional

Masa Kecil dan Pendidikan Sahardjo

Karena merupakan seorang putra dari keluarga yang terpandang, Sahardjo mendapat kesempatan untuk bersekolah di Europese Lagere School (ELS) dan tamat pada tahun 1922.

Setelah lulus dari ELS, Sahardjo memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya tersebut dan masuk ke STOVIA.

STOVIA merupakan sekolah kedokteran pada zaman penjajahan kolonial Belanda di Batavia (sekarang Jakarta).

Namun pendidikannya di sana tidak lama, hanya berjalan setahun, ia merasa dirinya tidak memiliki bakat di bidang tersebut.

Hal yang membuatnya tidak pada dirinya di sekolah kedokteran terbukti ketika ia melihat darah dan tidak tahan atau takut.

Setelah itu ia pindah dan melanjutkan lagi pendidikannya tersebut di Algemeene Middelbare School (AMS) dan tamat pada tahun 1927.

Perjalanan Karier Sahardjo

Setelah lulus dari AMS, ia mendapatkan ijazah dan pada saat itu seharusnya ia sudah bisa mulai bekerja. Tapi ia tidak berminat untuk langsung bekerja.

Sahardjo memiliki keinginan untuk menjadi seorang ahli hukum. Setelah itu, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya, dengan berkuliah di Rechts Hoge School (RHS) yang merupakan Sekolah Tinggi di bidang hukum.

Pada masa sekolahnya, Sahardjo bisa dibilang sebagai anak yang cerdas. Namun, hal itu belum cukup untuk menjadi bekalnya ketika masuk ke RHS.

Pendidikan yang ia jalani di RHS tidak berjalan dengan lancar, yaitu menyangkut masalah biaya.

Sahardjo pernah berpikir untuk berhenti dari kuliahnya tersebut, di sanalah tunangannya, Siti Nuraini membantu untuk memberikan bantuan kepadanya.

Berkat bantuan dari sang kekasih, akhirnya Sahardjo berhasil menyelesaikan pendidikannya di RHS dan meraih gelar sarjana pada tahun 1941.

Setelah itu ia bekerja dengan gelar sarjananya (Meester in de Rechten) di Departemen van Justisi (Kehakiman) Pemerintahan Hindia-Belanda.

Empat tahun berlalu, kemudian pada masa pemerintahan penjajah Jepang, ia menjadi Wakil Kepala Kantor Kehakiman di Jakarta, yang dipimpin oleh Dr. Soepomo.

Setelah kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1946, Sahardjo ikut bersama dengan Pemerintah RI ke Yogyakarta.

Jabatan yang ia pegang yaitu sebagai Kepala Bagian Hukum dan Tata Negara dalam Kementerian Kehakiman selama 10 tahun.

Dalam pekerjaannya di sana, Sahardjo banyak menghasilkan Undang-Undang serta peraturan yang ia kemukakan, antara lain:

  • Undang-Undang Kewarganegaraan Indonesia (1947 dan 1958)
  • Undang-Undang Pemilihan Umum (1953)
  • Perencanaan Undang-Undang Republik Indonesia Serikat (RIS) (1950).

Akhir Hayat Sahardjo

(legalstudies71)

Kesehatan Dr. Sahardjo, SH mulai menurun akibat tekanan darah tinggi yang ia derita. Saat itu, ia pulang ke rumah dan mengatakan pada istrinya, bahwa tugasnya kepada negara sudah selesai.

Hanya berselang seminggu dari perkataannya tersebut, pada 13 November 1963 ia menghembuskan nafas terakhirnya karena pendarahan otak.

Kemudian jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Sebagai penghargaan untuk mengenang jasa-jasanya, Dr. Sahardjo, SH diberikan gelar sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keppres No. 245 tanggal 29 November 1963.

Selain penghargaan tersebut, nama beliau juga diabadikan di beberapa nama jalan di kota Jakarta sebagai bentuk penghormatan.

Arif Prasetyo
Arif Prasetyo

A seo writer who writes about "Evergreen" content.

Who is starting a career at the Limapagi company.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.