Biografi Singkat Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur

LIMAPAGI - Biografi singkat Sultan Hasanuddin, beliau merupakan seorang raja dari Timur yang sangat populer karena kegigihannya melawan Belanda.

Sultan Hasanuddin lahir di Gowa, Sulawesi Selatan pada 12 Januari 1631. Beliau dijuluki sebagai Ayam Jantan dari Timur oleh orang-orang Belanda.

Berikut ini tim Limapagi akan membahas tentang biografi dan sejarah singkat tentang Sultan Hasanuddin, sang Ayam Jantan dari Timur,

Biografi Singkat Sultan Hasanuddin

(wikipedia)

Sultan Hasanuddin lahir dari pasangan Sultan Malikussaid, Sultan Gowa ke-15, dengan I Sabbe To’mo Lakuntu.

Kesultanan Gowa merupakan kesultanan besar di wilayah Timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan pada masanya.

Karena dilahirkan dari keluarga kerajaan, sejak kecil ia sudah menunjukkan jiwa-jiwa pemimpin. Meskipun lahir dari keluarga terpandang, ia juga terkenal dengan sosok yang cerdas dan pandai berdagang.

Biodata Sultan Hasanuddin

NamaSultan Hasanuddin
PanggilanAyam Jantan dari Timur
Tempat dan Tanggal LahirGowa, Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631
WafatGowa, Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670
AgamaIslam
Orang Tua

Ayah: Sultan Malikussaid

Ibu: I Sabbe To’mo Lakuntu

Pasangan-
Anak-
GelarPahlawan Nasional

Masa Kecil dan Pendidikan Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin kecil pertama mendapatkan pendidikannya di Masjid Bontoala. Sejak kecil, ia sering sekali diajak oleh ayahnya untuk menghadiri pertemuan penting.

Hal tersebut bertujuan agar Sultan Hasanuddin bisa menyerap ilmu diplomasi dan pengalaman berperang. Beliau juga dipercaya sebagai delegasi untuk mengirim pesan ke berbagai kerajaan.

Ketika beranjak dewasa, saat usia 21 tahun, Sultan Hasanuddin diberikan amanat untuk menjaga dan mengurus pertahanan kerajaan Gowa.

Ada dua versi sejarah yang menjelaskan tentang kapan Sultan Hasanuddin diangkat menjadi raja, yaitu saat usia 22 tahun pada 1653 dan pada usia 24 tahun pada 1655.

Perjuangan Sultan Hasanuddin

(idprajuritpena)

Saat Kerajaan Gowa di pimpin oleh Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya. Sebagai putra kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15, jiwa pemimpinnya ikut terbangun.

Pada masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Belanda yang saat itu berada di Indonesia pada pertengahan abad ke-17, bermaksud untuk melakukan monopoli rempah-rempah yang diwakili oleh VOC.

Namun, tindakan dari Belanda tersebut terhalang oleh Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin.

Orang Makassar yang dapat dengan bebas tanpa halangan dalam membeli rempah-rempah, hal tersebut membuat Belanda tidak suka.

Lalu, VOC berusaha melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku dengan cara mengadakan perhitungan dengan orang-orang Spanyol dan Portugis.

Kompeni Belanda (VOC) memaksa agar orang-orang menjual rempah-rempah tersebut dengan harga yang sudah ditetapkan oleh mereka.

Sultan Hasanuddin yang mengetahui tindakan monopoli tersebut, menolak keras. Katanya, tindakan tersebut bertentangan dengan kehendak Allah.

Tetapi, VOC sangat tidak setuju dengan pendapat Sultan Hasanuddin. Kemudian pada tahun 1660, VOC menyerang kota Makassar.

Penyerangan tersebut ternyata belum cukup untuk menundukkan Kerajaan Gowa. Lalu pada tahun 1667, VOC yang berada di bawah kepemimpinan Cornelis Speelman beserta sekutunya kembali menyerang Makassar.

Akhir Hayat Sultan Hasanuddin

Pertempuran tersebut terjadi dimana-mana, hingga akhirnya Kerajaan Gowa terdesak dan semakin lemah. Sehingga Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667.

Namun tidak berhenti di sana, pada 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Tapi sayangnya, Belanda yang saat itu sudah semakin kuat, berhasil menguasai Benteng Sombaopu. Benteng tersebut merupakan pertahanan terakhir Kerajaan Gowa.

Pada akhirnya Sultan Hasanuddin sudah pasrah dan mengakui kekuasaan Belanda secara terpaksa. Hingga akhir hayatnya, Sultan Hasanuddin tidak pernah mau bernegosiasi dan bekerja sama dengan Belanda.

Setelah itu, Sultan Hasanuddin mengundurkan diri dari tahtanya dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Jenazahnya tersebut dikebumikan di Pemakaman Raja-Raja Gowa di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Itulah biografi singkat Sultan Hasanuddin, seorang Pahlawan Nasional yang teguh pada pendiriannya untuk tidak mau bekerja sama dengan Belanda dengan cara liciknya.

Untuk menghormati jasanya, Sultan Hasanuddin dianugerahkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 087/TK/1973.

Arif Prasetyo
Arif Prasetyo

A seo writer who writes about "Evergreen" content.

Who is starting a career at the Limapagi company.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.