Pengusaha Desak BPKP Percepat Audit Pembayaran Kamar Hotel untuk Isoman

LIMAPAGI – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI meminta Badan Pengawas Pembangunan dan Keuangan (BPKP) untuk mempercepat proses audit pembayaran utang pemerintah yang menggunakan kamar hotel untuk isolasi mandiri penderita Covid-19. Hal ini agar proses pembayaran utang sebesar Rp196 miliar segera dicairkan.

“Kami inginnya segera dibayar tapi kan harus diaudit dulu atau diapakan begitu, jadi mohon dipercepat lah,” kata Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) PHRI Sutrisno Iwantono kepada Limapagi Network, Kamis 29 Juli 2021.

Baca Juga: Okupansi Hotel Hanya 8 Persen, Pekerja Dibayar Harian saat PPKM Darurat

Menurutnya, tunggakan utang ratusan miliar terjadi untuk pembayaran jasa hotel yang digunakan isolasi mandiri selama lima bulan dari Januari hingga Mei 2021. Rata-rata hotel yang menyediakan layanan itu adalah fasilitas bintang lima.

Hingga sekarang, perwakilan PHRI dan pemerintah masih belum menjalin komunikasi lebih lanjut soal pembayaran utang. Titik terang terkait dengan pelunasan utang juga masih belum didapatkan kedua belah pihak.

“Sekarang lagi dalam audit BPKP. Mau bagaimana lagi sampai saat ini belum cair,” kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengklaim telah memberikan anggaran bagi pembayaran utang kepada pengusaha hotel yang diajak kerja sama untuk isolasi mandiri pasien Covid-19.

Adapun utang yang digunakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 berdasarkan laporan pengusaha hotel mencapai Rp196 miliar.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Penangguhan Pajak untuk Hotel, Restoran, Kafe, Transportasi dan Wisata

Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo mengatakan, masalah tersebut mestinya telah diselesaikan sejak lama. Pihaknya pun memastikan klaim biaya yang digunakan untuk menangani wabah akan segera dicairkan.

“Kalau dari kita (Kemenkeu) kan ada klaim pasti dibayar. Cuma nanti saya tanya dulu deh ada masalah apa sih ini kok sampai lama banget,” kata Yustinus kedapa Limapagi Network, Minggu 25 Juli 2021.

Kendati demikian, Yustinus belum dapat mestikan lebih lanjut terkait dengan perkembangan pencairan anggaran untuk membayar utang. Dia juga belum mengetahui detail nominal utang yang dimiliki BNPB.

KABAR LAINNYA

Discussion about this post