Elektabilitas Airlangga Mandek, Berbanding Terbalik dengan Partai Golkar

LIMAPAGI - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto belum bisa masuk tiga besar peraih elektabilitas tertinggi untuk dipilih masyarakat menjadi calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres) dalam berbagai survei. Hal tersebut berbanding terbalik dengan popularitas Partai Golkar yang duduk di peringkat tiga besar, bahkan peringkat satu survei.

Menurut Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi ada berbagai faktor kenapa Airlangga gagal meraih elektablititas. Salah satunya karena Golkar yang memang selalu gagal dalam membranding dan mencitrakan sosok ketua umumnya.

"Golkar gagap dalam membingkai komunikasi politik aktor-aktornya. Ibarat mesin jeroannya sudah 2400 cc tapi chasing kendaraannya masih jadul," ucap Ari kepada Limapagi, Selasa, 11 Januari 2022.

Baca Juga: Muncul Nama Ahok dalam Bursa Capres Hasil Survei SMRC

Elektabilitas yang sulit menanjak, menurutnya bukan cuma salah Golkar sebagai partai. Tapi, Airlangga juga punya peran kenapa dirinya sampai saat ini tak bisa masuk tiga besar peringat atas untuk dipilih masyarakat.

"Golkar terutama ketua umumnya gagal membangun strategi komunikasi yang bisa diterima milenial," katanya.

Direktur Lembaga Survei Nusakom Pratama ini menilai berbagai kegagalan-kegagalan tersebut tidak terlepas dari efek elektorial dan popularitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelumnya.

Keduanya populer tetapi tidak berhasil membangun image-nya sebagai partai yang adaptable dengan keinginan pemilih.

"Golkar hanya pandai mengambil momentum kekuasaan tetapi tidak cerdas dalam membangun personal-personalnya," tutur dia.

Golkar Masuk Tiga Besar

Berdasarkan hasil survei Partai Golkar selalu masuk dalam tiga besar partai yang akan dipilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) mendatang, termasuk Nusakom Pratama. Menurut dia yang membuat Golkar selalu berada di tiga besar top mind responden adalah pengaruh Jokowi effect.

"Mengingat Golkar adalah anggota koalisi pemerintahan Jokowi-Amin," ucapnya.

Golkar, kata lulusan S3 Komunikasi Politik Universitas Padjajaran itu dianggap sebagai partai yang stabil dan tidak memiliki gen sebagai partai oposisi. Artinya di setiap rezim yang berkuasa, Golkar selalu ada di dalamnya.

Ia mengatakan Golkar sangat menikmati peran itu mengingat sebagai stabilisator konstruksi bangun pemerintahan, Golkar selalu mendapat kue pemerintahan yakni pos beberapa menteri yang strategis.

Baca Juga: Survei Populi Center soal Capres 2024: Ganjar Pranowo Ungguli Puan Maharani

Hasil survei KedaiKOPI yang dirilis 19 Desember 2021 juga menempatkan popularitas Golkar berada di peringkat pertama dengan persentase 94,7. Angka tersebut berbanding terbalik dengan elektabilitas Airlangga yang rata-rata di bawah tiga besar dibandingkan dengan tokoh politik lain, bahkan 10 besar dibandingkan sosok populer hari ini.

Sementara itu, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 28 Desember 2021 menunjukan Airlangga juga tak masuk tiga besar tokoh yang memperoleh elektabilitas tinggi. Sementara Partai Golkar meraih posisi kedua, tepat di bawah PDI Perjuangan yang di posisi pertama dan Gerindra di urutan ketiga.

Sedangkan hasil lembaga survei Indikator Politik Indonesia pada Minggu, 9 Januari 2022 mencatat Airlangga meraih posisi tiga elektabilitas sebagai yang menjadi Ketua Umum. Hanya saja, namanya tergeser jauh jika dibandingkan dengan tokoh bukan dari Ketua Umum.

Adapun Partai Golkar meraih posisi ketiga di bawah PDI Perjuangan yang berada di peringkat pertama dan Gerindra di peringkat kedua.

KABAR LAINNYA