Dolar AS Anjlok Usai Data Pekerjaan yang Mengecewakan

LIMAPAGI - Mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan persentase harian terbesar dalam 6 minggu terakhir di Jumat, 8 Januari 2022 waktu setempat. Hal ini setelah laporan pekerjaan AS untuk Desember meleset dari ekspektasi, tetapi masih dipandang cukup kuat untuk mempertahankan jalur pengetatan Federal Reserve.

Mengutip antaranews, Sabtu, 9 Januari 2022, indeks dolar turun 0,546 persen pada 95,734, penurunan terbesar sejak 26 November, ketika kekhawatiran tentang varian virus corona Omicron mulai mengguncang pasar. Bahkan dengan pelemahan Jumat (7/1/2022), dolar masih berada di jalur untuk sedikit kenaikan mingguan, yang pertama dalam tiga minggu.

Baca Juga: Dolar AS Menguat Usai The Fed Beri Sinyal Hawkish

Departemen Tenaga Kerja mengatakan data penggajian (payrolls) nonpertanian naik 199.000 bulan lalu, jauh di bawah perkiraan 400.000. Tetapi analis mencatat data yang mendasari dalam laporan tampak lebih kuat, dengan tingkat pengangguran turun menjadi 3,9 persen terhadap ekspektasi 4,1 persen sementara pendapatan naik 0,6 persen, menunjukkan ketatnya pasar tenaga kerja.

Laporan tersebut juga meningkatkan ekspektasi The Fed akan mulai menaikkan suku bunga pada pertemuan Maret, dengan suku bunga federal fund berjangka menyiratkan peluang kenaikan 90 persen, meningkat dari peluang 80 persen pada Rabu (5/1/2022).

"Meskipun berita utama mungkin tidak mencapai konsensus, konsensus tidak terlalu menjadi masalah bagi The Fed. Bagi mereka, ini mungkin membenarkan kecenderungan hawkish mereka," kata Brian Jacobsen, ahli strategi investasi senior di Allspring Global Investments di Menomonee Falls, Wisconsin.

""Kita harus melihat bagaimana mereka berjalan dengan pembicaraan hawkish mereka, meningkatnya kemungkinan untuk kenaikan suku bunga pada Maret atau Mei dan pengetatan moneter mulai akhir tahun depan."

Di Wall Street, indeks acuan SP 500 sedikit lebih rendah, sementara imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan menyentuh 1,80 persen, tertinggi sejak Januari 2020.

Euro naik 0,62 persen menjadi 1,1361 dolar, karena menguat terhadap greenback menyusul laporan penggajian AS, dan setelah menunjukkan sedikit reaksi terhadap data yang menunjukkan inflasi zona euro naik menjadi 5,0 persen pada Desember.

Pembuat kebijakan zona euro mengatakan mereka memperkirakan inflasi secara bertahap melambat pada 2022 dan kenaikan suku bunga kemungkinan tidak akan diperlukan tahun ini.

Yen Jepang menguat 0,22 persen versus greenback di 115,59 per dolar. Yen telah menerima pukulan terberat sementara greenback telah menguat baru-baru ini, dengan dolar mencapai level tertinggi lima tahun versus yen di awal pekan ini.

Sterling bersiap untuk kenaikan mingguan ketiga berturut-turut terhadap dolar dan terakhir diperdagangkan pada 1,3592 dolar, naik 0,47 persen hari ini, bahkan setelah data menunjukkan pertumbuhan di sektor konstruksi Inggris mendingin pada Desember ketika penyebaran varian virus corona Omicron hampir menyamai tertinggi dua bulan yang dicapai pada i Rabu (5/1/2022).

Baca Juga: Dipukul Dolar AS, Kurs Rupiah Ditutup ke Rp14.391

Terlepas dari penyebaran varian Omicron yang cepat, investor semakin melihatnya sebagai tidak mungkin untuk menggelincirkan ekonomi global atau tindakan yang lebih agresif oleh bank-bank sentral.

Di pasar uang kripto, bitcoin terakhir turun 2,96 persen menjadi 41.822,60 dolar setelah mencapai level terendah 40.600 dolar, terendah sejak 22 September. Ethereum terakhir turun 6,27 persen menjadi 3.194,51 dolar, di jalur untuk penurunan harian ketiga berturut-turut, setelah menyentuh level terendah sejak 1 Oktober.

KABAR LAINNYA