Jakarta – Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama Ari Junaedi menegaskan, Hasil survei Litbang Kompas hanya memotret dinamika politik yang tercover saat survei dilakukan, yakni di periode tertentu. Ia menegaskan, hasil survei tidak identik dengan hasil akhir pemilihan presiden karena elektabilitas kandidat sangat dinamis dan fluktuatif tergantung dengan isu dan moment politik yang terjadi.
“Survei Litbang Kompas edisi 29 November – 4 Desember 2023 ini belum mengcover blunder Gibran soal asam sulfat dan serial debat publik resmi yang digelar KPU mulai 12 Desember 2023,” kata pengamat politik Universitas Indonesia itu.
Namun, Ari Junaedi mengingatkan, sebagai tolok ukur dari resultan manuver pergerakan kandidat di lapangan, kerja mesin partai pendukung terutama PDI Perjuangan, Tim Pemenangan Nasional dan Tim Pemenangan Daerah, serta relawan, hasil survei hendaknya dijadikan barometer.
“Selain evaluasi manajemen kampanye dan penajaman strategi, potensi massa mengambang yang masih 28,7 persen harus digarap maksimal,” ungkapnya.
Selain itu, ia menekankan, belum lagi ada responden yang termakan “cinta mendadak”, mungkin terpikat karena termakan kampanye nasi bungkus dan susu gratis, masih bisa digoyang untuk berpindah haluan.
“Patut dicatat pula, Litbang Kompas melalui survei edisi Desember tidak berhasil secara utuh bagaimana penggarapan aparat desa, ketidaknetralan aparat, upaya pembungkaman suara-suara kelompok kritis yang dilakukan rezim Jokowi begitu efektif melumpuhkan pendukung Ganjar Pranowo,” urainya.
Ari menambahkan, boleh jadi survei Litbang Kompas tersebut hanya berhasil menangkap aspek kuantitatif responden terpilih tetapi tidak bisa menangkap utuh aspek kualitatif dari responden yang mengalami upaya pembungkaman aparat. “Penekanan psikis dan kekhawatiran akan dampaknya pada aspek hukum yang ‘dibuat-buat’ terhadap perangkat desa oleh aparat begitu efektif melumpuhkan lumbung suara pendukung Ganjar,” terangnya.
Akhirnya, Ari berharap lewat forum debat nantinya, calon pemilih akan mendapat suguhan kepiawaian calon RI-1 dan calon RI-2 menyampaikan gagasan kenegaraan an kebangsaan. “Pemilih yang bimbang bisa melabuhkan suaranya apakah akan memilih pemimpin yang berkualitas ataukah pemimpin hasil polesan sana-sini,” pungkas Ari.


