Jalur Gaza – Konflik antara Israel dengan Hamas yang berkecamuk di Kota Rafah kian sengit. Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut rumah sakit terakhir di Rafah akan berhenti berfungsi dan menghadapi lonjakan jumlah kasus kematian bila Israel melancarkan serangan penuh ke Gaza selatan. Dari tiga rumah sakit di Rafah, kini dua telah hancur dan satu lagi nyaris lumpuh total.
“Jika serangan terus berlanjut, kami akan kehilangan rumah sakit terakhir di Rafah,” kata Richard Peeperkorn, perwakilan WHO untuk Gaza dan Tepi Barat.
Peeperkorn mengatakan situasi yang terjadi sekarang sangat tidak kondusif. Berbagai tindakan medis darurat tanpa dukungan perlengkapan yang memadai sangat beresiko meningatkan potensi kematian. Sementara itu peperangan masih belum menunjukkan tanda-tanda bakal berakhir. Satu-satunya cara menyelamatkan para pasien adalah dengan menambah pasokan medi.
Sayangnya blokade terhadap Kota Rafah tidak memberi akses pada siapapun, termausk WHO, untuk mengirim bantuan. Sejak penutupan Rafah, WHO hanya mampu mengirimkan tiga truk pasokan medis melalui Kerem Shalom.
“Hampir 100 persen perbekalan kesehatan, obat-obatan penting, peralatan, semuanya sebenarnya berasal dari Al-Arish (di Mesir) melalui penyeberangan Rafah. Saat ini ada 60 truk yang berada di Al-Arish menunggu untuk masuk ke Gaza,” ujarnya.
Pertempuran antara Israel dengan Hamas teru menuai sorotan dunia internasional. Terlebih ketika beberapa hari lalu pertempuran menyebabkan kebakaran hebat di area pengungsian yang penuh tenda. Api menyebar dengan cepat, dan jatuhnya korban jiwa pun tak terhindarkan.


