Jakarta – Sepekan sejak hari pemungutan suara (14/2), tingkat kepuaan publik terhadap penyelengaraan pemungutan suara di Pemilu 2024 mengalami kemerosotan. Fenomena ini terungkap dari hasil survei paskapemilu yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 19-21 Februari 2024.
Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan mengungkapkan tingkat kepuasan publik mencapai 83,6 persen saat disurvei. Padahal pada hari pemungutan suara, tingkat kepuasannya mencapai 94,5 persen. Penurunan ini salah satunya karena banyaknya pemberitaan yang menyoroti dugaan adanya persoalan dalam pelaksanaan Pemilu. Misalnya kesalahan penghitungan yang dialami Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap), hingga banyaknya TPS yang harus menggelar pemungutan suara ulang.
“Ada penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap jujur dan adilnya proses Pemilu kalau dilihat dari data ini. Turunnya hampir 20 persen. Ini sangat signifikan. Misalnya kita survei lagi 10 hari lagi, mungkin tingkat kepuasannya turun lagi,” kata Djayadi dalam rilis temuan LSI secara daring, Minggu (24/2).
Selisih ini tidak dapat mengompensasi kenaikan responden yang menganggap pelaksanaan pemilu cukup jujur dan adil, yakni hanya 58,8 persen dari sebelumnya 48,8 persen. Sisanya, ada penambahan 8,1 persen responden yang menganggap Pemilu 2024 kurang jujur dan adil, serta penambahan 4,8 persen responden yang menilainya tidak jujur dan adil sama sekali.
LSI menyebutkan, target populasi survei ini adalah warga negara Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah dan memiliki telepon/ponsel. Jumlahnya sekitar 83 persen dari total populasi nasional. Pemilihan sampel dilakukan melalui metode random digit dialing (RDD) atau teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak.
Dengan teknik RDD, sampel sebanyak 1.211 responden dipilih melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak, validasi, dan screening. Margin of error survei diperkirakan lebih kurang 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, asumsi simple random sampling. LSI mengeklaim wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang dilatih.


