Jakarta – Setelah beberapa minggu ini terjadi kenaikan harga beras, sekarang stok beras premium di pasaran terpantau kosong. Rak-rak yang biasanya memajang beras premium kemasan 2,5 kg dan 5 kg di toko-toko ritel terpantau kosong, Beberapa toko mensiasati dengan menggunakan rak beras untuk memajang produk lain, seperti mie instant atau minyak goreng.
Menurut beberapa pramuniaga toko ritel, kekosongan terjadi sudah lebih dari satu minggu akibat keterlambatan pasokan. Di sisi lain, ketika ada pasokan datang pasti langsung habis diserbu pembeli.
Seorang manajer toko ritel mengaku cukup terganggu dengan situasi ini. Kelangkaan barang akan mengakibatkan konsumen tergoda melakukan aksi borong. Guna mencegah hal itu, pihaknya menerapkan pembatasan pembelian.
“Sejak dua minggu lalu kami melakukan pembatasan pembelian. Setiap konsumen hanya boleh membeli beras premium maksimal dua kemasan. Artinya maksimal 5 kilogram untuk kemasan @2,5 kilogram, dan maksimal 10 kilogram untuk kemasan @5 kilogram,” katanya.
Sementara seorang pedagang beras mengaku cukup resah dengan situasi yang terjadi sekarang. Memang kelangkaan baru dirasakan oleh konsumen beras premium, tetapi jika situasi berlanjut pasti akan berdampak pada masyarakat konsumen beras non premium. Bisa-bisa terjadi aksi borong yang mengganggu stabilitas ekonomi. Untuk itu ia berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah solutif.
Ketua Umum Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey tak menampik bahwa peritel mulai kesulitan mendapatkan stok beras. Roy menilai, jika kondisi ini tidak bisa ditangani bisa membuat kelangkaan pada beras sehingga harga beras makin melambung.
“Memang saat ini, peritel mulai kesulitan mendapatkan suplai beras tipe premium lokal dengan kemasan 5 kilogram, keterbatasan suplai beras tersebut disebabkan saat ini belum masa panen yang diperkirakan akan terjadi pada pertengahan bulan Maret 2024,” ujarnya.


