Berlin – Terhitung mulai Februari 2024, Eropa akan menerapkan program paspor untuk baterai kendaraan listrik. Program ini disponosri oleh Kementerian Federal Jerman untuk Urusan Ekonomi dan Aksi Iklim serta didukung beberapa produsen otomotif seperti BMW dan Audi. Sementara itu Circulor, produsen baterai yang berbasis di Inggris, akan bertindak sebagai pimpinan teknis.
Program paspor baterai pada dasarnya merupakan pendataan terkait profil baterai yang dipasok ke Eropa. Nantinya tiap produk akan memberikan sembilan informasi yang terbagi dalam tujuh kategori. Adapun ketujuh kategori itu adalah kepatuhan, sertifikasi dan label, jejak karbon baterai, uji tuntas rantai pasokan, indikasi bahan dan komposisi baterai, sirkularitas dan efisiensi sumber daya, serta kinerja dan daya tahan.
“Hal ini bertujuan untuk menciptakan akuntabilitas rantai pasokan – siapa yang menyentuh apa, kapan dan di mana,” kata chief external affairs officer Circulor, Ellen Carey.
Paspor ini menggunakan data industri Internet of Things guna mengidentifikasi organisasi yang terlibat berada dalam rantai pasokan produsen. Termasuk menggunakan data application programming interface, suatu model perencanaan sumber daya perusahaan untuk menghasilkan rekam jejak digital mengenai asal-usul baterai.
“Kami mengambil informasi yang kami ketahui tentang nikel dan kami membuat data digitalnya. Di mana penambangan baterainya? Di mana lokasinya? Berapa beratnya? Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam hal pemrosesan? Kemudian semua informasi yang kami kumpulkan di setiap langkah sepanjang perjalanan mengenai nikel yang sama. Nanti dapat kami kaitkan dengan VIN atau kode QR tersebut,” tambahnya.
Eropa boleh mengatakan regulasi ini ditujukan untuk mendukung energy hijau guna mendukung kelestraian lingkungan. Namun di sisi lain, ini juga bisa dipandang sebagai upaya menjegal ekspansi produsen baterai tertentu ke Eropa.


